BEKASI — Pembangunan kesehatan masyarakat tidak semestinya berhenti pada tersedianya fasilitas dan layanan pengobatan. Lebih jauh, kesehatan harus menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran masyarakat, diperkuat pemerintah, serta ditopang kolaborasi lintas sektor.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Minggon Kecamatan Cikarang Selatan, Rabu, 2 September 2026. Dalam forum tersebut, Kepala Puskesmas Sukasejati, Nenden Wulansari, S.ST., M.Kes., M.Si., memaparkan arah penguatan pelayanan kesehatan sekaligus kesiapan menghadapi proses akreditasi atau akreditasi ulang Puskesmas Sukasejati yang bertempat di Desa Sukasejati, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.

Nenden menegaskan, proses akreditasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai pemenuhan administratif. Akreditasi harus menjadi instrumen untuk memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang semakin bermutu, mudah diakses, aman, dan berorientasi pada kebutuhan warga.
Puskesmas Sukasejati sebelumnya telah memperoleh akreditasi ketika masih menempati fasilitas pelayanan kesehatan di Desa Sukasejati. Seiring perkembangan fasilitas dan kebutuhan pelayanan masyarakat, berbagai pembenahan kini terus dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi proses akreditasi atau akreditasi ulang.
“Kami sedang berbenah diri untuk mempersiapkan akreditasi atau akreditasi ulang. Sebelumnya kami telah mendapatkan akreditasi. Karena itu, kami tentu sangat mengharapkan dukungan dan bimbingan dari semua pihak,” ujar Nenden.
Mengubah Paradigma: Dari Mengobati Menjadi Mencegah
Di hadapan peserta Rapat Minggon, Nenden menyampaikan bahwa tantangan pelayanan kesehatan saat ini bukan hanya bagaimana menangani masyarakat yang sakit, tetapi bagaimana mendorong masyarakat agar mampu menjaga kesehatan sebelum penyakit datang.
Karena itu, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS menjadi salah satu perhatian utama Puskesmas Sukasejati.
Penguatan edukasi dan konseling masyarakat akan terus dilakukan, termasuk menyasar kelompok remaja dan lingkungan sekolah. Menurut Nenden, membangun budaya hidup sehat sejak usia muda merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Sejumlah program promotif dan preventif terus didorong, mulai dari edukasi kesehatan bagi remaja, Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS, pemberian vitamin A, pemberian obat cacing, hingga penguatan pelayanan Posyandu.
“Upaya meningkatkan derajat kesehatan harus dilakukan sepanjang siklus kehidupan. Mulai dari bayi, balita, ibu hamil, remaja, hingga masyarakat dewasa dan lanjut usia,” katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Puskesmas tidak hanya ditempatkan sebagai fasilitas kesehatan ketika masyarakat membutuhkan pengobatan, tetapi sebagai pusat edukasi, pencegahan, dan deteksi dini yang hadir sepanjang perjalanan kehidupan warga.
Memperkuat Layanan, Memperluas Akses
Transformasi pelayanan juga menjadi bagian penting dari pembenahan Puskesmas Sukasejati.
Nenden menyampaikan, berbagai layanan terus diperkuat, mulai dari pelayanan kesehatan dasar, pelayanan penyakit tidak menular, laboratorium, farmasi, hingga pelayanan gigi.
Dukungan tenaga dokter gigi juga menjadi bagian dari penguatan layanan tersebut sehingga masyarakat memiliki akses pelayanan kesehatan yang semakin lengkap di tingkat fasilitas kesehatan pertama.
Namun bagi Nenden, kelengkapan fasilitas tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila masyarakat belum menjadikan kesehatan sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, ia mengajak warga untuk tidak hanya datang ke Puskesmas ketika sudah mengalami gangguan kesehatan.
“Jangan hanya datang ketika sedang sakit. Silakan berkonsultasi apabila memiliki keluhan. Termasuk terkait kesehatan mental, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan yang tersedia,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini dan konsultasi kesehatan agar masyarakat tidak selalu menunggu kondisi menjadi lebih berat sebelum mencari pertolongan.
Puskesmas Ingin Hadir sebagai Sahabat Masyarakat
Di tengah berkembangnya berbagai fasilitas dan klinik kesehatan swasta, Nenden melihat keberadaan fasilitas kesehatan lain bukan sebagai alasan untuk saling berjarak, melainkan sebagai momentum meningkatkan standar pelayanan.
Puskesmas Sukasejati ingin hadir dengan pelayanan yang semakin profesional, humanis, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah Kecamatan Cikarang Selatan.
“Kami ingin hadir bersama masyarakat untuk memberikan pelayanan yang semakin baik. Tujuan kami bukan hanya mendapatkan selembar kertas akreditasi, tetapi bagaimana meningkatkan mutu pelayanan,” tegasnya.
Bagi Nenden, ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan pada akhirnya bukan hanya predikat atau sertifikat, melainkan sejauh mana masyarakat merasakan perubahan dan manfaatnya.
Karena itu, ia ingin menggeser cara pandang terhadap Puskesmas: dari sekadar tempat masyarakat berobat menjadi mitra sekaligus sahabat masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Kesehatan Tidak Bisa Dibangun Sendirian
Nenden menyadari bahwa pembangunan kesehatan merupakan pekerjaan besar yang tidak mungkin diselesaikan oleh tenaga kesehatan semata.
Diperlukan sinergi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader Posyandu, institusi pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, keluarga, hingga masyarakat itu sendiri.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting karena kesehatan memiliki keterkaitan erat dengan sektor pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
“Masyarakat sehat, sejahtera, dan mandiri tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga kesehatan dan ekonomi. Semua sektor harus bangkit dan bergerak bersama,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Posyandu dan para kader memiliki posisi strategis. Mereka merupakan bagian dari mata rantai pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, khususnya dalam pemantauan tumbuh kembang anak, kesehatan ibu dan anak, serta berbagai program kesehatan berbasis masyarakat.
Akreditasi sebagai Momentum Pembuktian
Persiapan akreditasi atau akreditasi ulang Puskesmas Sukasejati akhirnya bukan sekadar agenda kelembagaan.
Lebih dari itu, proses tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, pembenahan, dan peningkatan kualitas pelayanan secara menyeluruh.
Nenden berharap seluruh jajaran Puskesmas Sukasejati mampu menjaga semangat perbaikan dan menjadikan akreditasi sebagai bagian dari budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan.
“Semoga proses akreditasi kembali ini berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil terbaik. Yang paling penting, hasilnya benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita membangun masyarakat yang bukan hanya terbebas dari penyakit, tetapi juga memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan untuk menjaga kesehatan secara mandiri.
Pada akhirnya, pembangunan kesehatan bukan hanya tentang seberapa lengkap sebuah fasilitas kesehatan, melainkan tentang seberapa dekat pelayanan tersebut dengan masyarakat dan seberapa besar masyarakat merasa dilayani, dihargai, serta didampingi.
Dari Puskesmas Sukasejati yang berada di Desa Sukasejati, pesan itu kembali ditegaskan: kesehatan adalah investasi bersama. Ketika pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dunia pendidikan, dunia usaha, keluarga, serta masyarakat bergerak dalam satu irama, cita-cita menghadirkan Cikarang Selatan yang sehat, sejahtera, dan mandiri bukan sekadar harapan, melainkan ikhtiar bersama yang dapat diwujudkan secara nyata.


+ There are no comments
Add yours