Kapolri Beri Ruang Anak Berkarya dan Menyuarakan Cita-Cita

3 min read

JAKARTA — Setiap anak memiliki cerita, kemampuan, dan cita-cita yang berbeda. Karena itu, kesempatan untuk tampil, berbicara, didengarkan, dan mendapatkan dukungan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka. Pesan tersebut tercermin dalam pertemuan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dengan tiga anak, Faiha Samaira Khansa, Violina Firdausa, dan Gilang, Selasa (11/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ketiganya mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuan melalui dongeng sekaligus berbagi cerita mengenai kehidupan sekolah, keluarga, dan cita-cita yang ingin mereka raih. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang ketika mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang mendukung.

Setelah menyaksikan penampilan ketiganya, Kapolri mengajak mereka berbincang secara terbuka. Percakapan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan yang ditampilkan, tetapi juga menyentuh pengalaman sehari-hari, keluarga, pendidikan, serta harapan masing-masing anak.

Faiha, yang baru memasuki jenjang sekolah dasar, menyampaikan cita-citanya untuk menjadi dokter. Kapolri memberikan motivasi agar Faiha terus belajar dan mengembangkan kemampuannya. Dalam percakapan tersebut, perhatian juga diberikan kepada peran keluarga, khususnya ibu, yang turut mendampingi proses pendidikan dan pertumbuhan anak.

Sementara itu, Violina Firdausa atau Vio memiliki impian untuk menjadi anggota Polri. Cita-cita tersebut disampaikan setelah dirinya membawakan dongeng tentang seorang anak perempuan yang ingin menjadi polisi.

Ketika berbincang mengenai keluarganya, Vio menyampaikan bahwa ibundanya sedang sakit. Kapolri kemudian menyampaikan doa agar sang ibu segera diberikan kesembuhan. Kepada Vio, Kapolri juga berpesan agar tetap rajin belajar dan menjaga kesehatan.

“Sekolahnya yang pintar, sehat selalu ya,” pesan Kapolri.

Gilang juga mendapat kesempatan untuk berbagi cerita. Ia menyampaikan pengalaman mengenai sekolah dan keluarganya serta mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi dokter spesialis anak. Kapolri memberikan dorongan agar Gilang terus belajar, mengembangkan potensi, dan mengejar cita-citanya dengan penuh semangat.

Interaksi tersebut memberikan pesan bahwa dukungan terhadap anak perlu dilakukan secara menyeluruh. Anak tidak hanya membutuhkan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh penghargaan atas proses dan kemampuan yang dimilikinya.

Setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang bermimpi menjadi dokter, polisi, guru, ilmuwan, seniman, atlet, atau profesi lainnya. Keberagaman cita-cita tersebut merupakan bagian dari kekayaan potensi generasi muda yang perlu dihargai tanpa membatasi pilihan mereka.

Dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara memiliki peran penting dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang. Ruang yang inklusif juga berarti memastikan anak dapat tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sesuai potensinya.

Dari keberanian tiga anak membawakan dongeng dan menceritakan impian mereka, terselip pesan sederhana bahwa masa depan bangsa dibangun dari keberanian anak-anak untuk bermimpi. Tugas lingkungan di sekitar mereka adalah memastikan mimpi tersebut mendapatkan ruang untuk tumbuh melalui pendidikan, pendampingan, kesempatan, dan keteladanan.

Dengan demikian, pertemuan tersebut bukan hanya menjadi momen apresiasi terhadap tiga anak, tetapi juga pengingat bahwa membangun generasi masa depan membutuhkan kepedulian bersama. Setiap anak berhak didengar, dihargai, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours