BEKASI – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra sekaligus Anggota DPR RI empat periode, drg. Putih Sari, kembali menegaskan pentingnya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Perumahan Graha Asri, Desa Jatireja, Kabupaten Bekasi, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut diawali dengan doa yang dipimpin oleh Ustaz Asep Saefudin. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Putih Sari mengawali sambutannya dengan mengajak seluruh peserta memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul dalam forum yang sarat nilai kebangsaan tersebut.

Pada kesempatan itu, Putih Sari memperkenalkan dirinya kepada masyarakat yang sebagian besar baru pertama kali bertemu secara langsung dengannya. Ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan dokter gigi yang telah mengabdikan diri di dunia politik sejak tahun dua ribu sembilan dan dipercaya masyarakat selama empat periode berturut-turut menjadi anggota DPR RI yang mewakili Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta.
Sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Putih Sari menjelaskan bahwa ruang lingkup tugasnya meliputi bidang kesehatan, ketenagakerjaan, kependudukan, keluarga berencana, serta penguatan program gizi nasional. Selain menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, dirinya juga memiliki amanah sebagai anggota MPR RI untuk terus menyosialisasikan Empat Pilar MPR RI kepada seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, sosialisasi Empat Pilar bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan ikhtiar untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Seribu Sembilan Ratus Empat Puluh Lima, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Nilai-nilai Pancasila sesungguhnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Sejak di bangku sekolah kita telah mengenalnya. Namun nilai-nilai tersebut harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai dinamika zaman,” ujar Putih Sari.
Ia menegaskan bahwa selama lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka, Pancasila telah terbukti mampu menjadi perekat bangsa yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat. Menurutnya, para pendiri bangsa telah meletakkan dasar negara yang kokoh sehingga Indonesia mampu tetap berdiri tegak di tengah berbagai tantangan nasional maupun global.
Putih Sari juga mengajak masyarakat untuk mengamalkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menghormati seluruh pemeluk agama yang diakui negara. Dari nilai keagamaan tersebut, lanjutnya, akan tumbuh sikap saling menghargai, menjunjung tinggi kemanusiaan, memperkuat rasa persatuan, serta membangun budaya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam paparannya, ia mengakui bahwa pembangunan nasional masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk pemerataan hasil pembangunan. Namun demikian, menurutnya, seluruh elemen bangsa harus tetap optimistis dan terus berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing agar cita-cita mewujudkan keadilan sosial dapat terus diwujudkan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Kontribusi masyarakat tidak harus selalu dalam bentuk yang besar. Menjaga kerukunan lingkungan, mempererat persaudaraan, menghindari konflik, serta menciptakan suasana yang aman dan kondusif merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila yang sangat penting,” tuturnya.
Putih Sari menegaskan bahwa masyarakat tetap memiliki hak untuk memberikan kritik maupun masukan terhadap kebijakan pemerintah. Namun, kritik tersebut hendaknya disampaikan secara santun, objektif, disertai solusi, serta tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang membangun, bukan yang memecah belah. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan bangsa di atas berbagai perbedaan pandangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang menjadi potensi luar biasa untuk mendorong kemajuan bangsa. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat harus menjaga persatuan agar potensi tersebut dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan rakyat.
Putih Sari juga mengingatkan bahwa tantangan bangsa pada era digital tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan masuk melalui penyebaran informasi yang tidak benar, provokasi, ujaran kebencian, hingga berbagai upaya yang dapat memecah persatuan masyarakat melalui media sosial dan perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring setiap informasi yang diterima. Tidak semua informasi yang beredar di ruang digital dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karena itu, budaya literasi digital dan kemampuan melakukan verifikasi informasi menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan nasional.
“Kita harus menjadi masyarakat yang bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, apalagi jika informasi tersebut berpotensi mengadu domba dan memecah belah persatuan bangsa,” pesannya.
Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut, Putih Sari berharap semangat kebangsaan, toleransi, gotong royong, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin tumbuh di tengah masyarakat. Ia meyakini bahwa Indonesia akan mampu menjadi negara maju apabila seluruh rakyat terus menjaga persatuan, menghormati keberagaman, serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.


+ There are no comments
Add yours