“Kirab Budaya Mahkota Binokasih Tercoreng, Warga Menjerit Kehilangan Barang Berharga”

2 min read

Karawang – Kemeriahan Kirab Budaya Mahkota Binokasih di Kabupaten Karawang yang seharusnya menjadi ruang pelestarian budaya dan kebanggaan masyarakat, justru menyisakan kegelisahan bagi sebagian warga. Di tengah antusiasme ribuan pengunjung yang memadati kawasan jalan Tuparev Karawang, sejumlah masyarakat mengaku menjadi korban aksi pencopetan yang diduga memanfaatkan kerumunan acara budaya tersebut.

Ironisnya, usai iring-iringan budaya selesai dan massa mulai membubarkan diri, suasana berubah menjadi kepanikan kecil di beberapa titik. Teriakan kehilangan barang terdengar dari sejumlah pengunjung. Mulai dari dompet, telepon genggam hingga uang tunai dilaporkan raib diduga digondol tangan-tangan jahil yang memanfaatkan padatnya keramaian.

Salah satu warga Karawang mengungkapkan pengalamannya melalui akun Facebook pribadi pada Minggu (10/5/2026). Ia mengaku awalnya hanya mendengar seorang pengunjung lain berteriak kehilangan handphone. Namun beberapa saat kemudian, dirinya tersadar bahwa dompet miliknya juga sudah tidak berada di tempat.

“Awalnya saya dengar ada yang kehilangan handphone. Pas saya cek, ternyata dompet saya juga hilang,” tulisnya dalam unggahan yang kemudian menuai beragam respons dari masyarakat lainnya.

Unggahan tersebut sontak memantik perhatian publik. Tidak sedikit warga yang mengaku mengalami kejadian serupa maupun menyampaikan kekhawatiran atas lemahnya pengawasan keamanan di tengah membludaknya massa dalam kegiatan berskala besar tersebut.

Kirab budaya yang sejatinya menjadi simbol pelestarian sejarah dan identitas Sunda itu pun mendadak mendapat sorotan tajam. Publik menilai, semegah apa pun sebuah perayaan rakyat, keamanan masyarakat tetap harus menjadi prioritas utama yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Fenomena maraknya dugaan pencopetan dalam acara keramaian juga menjadi pengingat bahwa pelaku kriminal sering menjadikan euforia publik sebagai “ladang panen” yang empuk. Kerumunan padat, konsentrasi masyarakat yang terpecah, hingga minimnya kewaspadaan menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan jalanan.

Masyarakat pun mendorong agar penyelenggara kegiatan, aparat keamanan, serta pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan acara publik di Karawang. Kehadiran petugas yang lebih masif, pengawasan titik rawan, hingga edukasi kewaspadaan kepada pengunjung dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang dalam agenda budaya maupun hiburan rakyat lainnya.

Budaya seharusnya menghadirkan rasa bangga dan kebersamaan, bukan justru meninggalkan trauma kehilangan bagi masyarakat yang datang dengan niat menikmati warisan tradisi daerahnya sendiri.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours