Kang Adin: Pelayanan Publik Adalah Jalan Pengabdian, Bukan Sekadar Profesi

3 min read

Karawang — Dinamika pelayanan kesehatan di RSUD Jatisari yang belakangan menjadi sorotan publik tidak hanya memantik perhatian masyarakat, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif para pemangku kepentingan. Di tengah situasi tersebut, Ketua DPD PKS Kabupaten Karawang, Adin Jaelani S,.S.E,.M.E,. Atau yang lebih akrab disapa Kang Adin, menyampaikan pandangan yang menekankan dimensi moral dalam pelayanan publik.

Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat tidak bisa diposisikan sekadar sebagai rutinitas administratif atau kewajiban formal, melainkan harus dimaknai sebagai bentuk pengabdian total yang lahir dari kesadaran dan tanggung jawab kemanusiaan.

“Siapapun yang mendedikasikan diri sebagai pelayan masyarakat, baik di bidang kesehatan, pendidikan, atau pelayanan publik lainnya, memang harus mewakafkan dirinya untuk masyarakat atau umat. Itu adalah pilihan, sekaligus risiko dari profesi yang dipilih,” tegasnya.

Etika Pelayanan sebagai Fondasi Utama

Di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas layanan, Kang Adin mengingatkan bahwa profesionalisme tidak cukup hanya diukur dari aspek teknis. Lebih dari itu, sikap dan etika dalam melayani menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

Ia menegaskan bahwa pelayanan yang prima harus dibangun di atas empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap setiap individu yang datang dengan harapan.

“Tidak boleh ketus, tidak boleh masam dalam memberikan pelayanan. Jika tidak sanggup, lebih baik mundur,” ujarnya dengan nada tegas namun tetap reflektif.

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa wajah pelayanan publik sejatinya tercermin dari sikap para pelayan itu sendiri—apakah menghadirkan ketenangan atau justru menambah beban psikologis masyarakat.

Profesionalisme di Tengah Tekanan Layanan

Kang Adin tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi sektor pelayanan, khususnya di bidang kesehatan. Lonjakan pasien, keterbatasan fasilitas, hingga kompleksitas kasus adalah realitas yang harus dihadapi setiap hari.

Namun demikian, ia menekankan bahwa tekanan tersebut justru menjadi ruang ujian bagi integritas dan profesionalisme.

“Justru di tengah tekanan itulah integritas dan profesionalisme diuji. Masyarakat tidak hanya membutuhkan layanan, tetapi juga kepastian bahwa mereka diperlakukan dengan hormat dan manusiawi,” imbuhnya.

Dalam perspektif ini, pelayanan publik tidak hanya berbicara tentang kecepatan tindakan, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu diperlakukan dengan martabat yang layak.

Momentum Evaluasi dan Penguatan Sistem

Lebih jauh, Kang Adin memandang peristiwa di RSUD Jatisari sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Ia menekankan bahwa perbaikan tidak boleh bersifat parsial, melainkan harus menyentuh aspek sistemik.

Penguatan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas layanan, serta kebijakan yang adaptif dinilai menjadi langkah strategis yang perlu diambil secara berkelanjutan.

Menurutnya, tanggung jawab pelayanan tidak hanya berada di pundak tenaga lapangan, tetapi juga membutuhkan komitmen kuat dari para pengambil kebijakan.

Pelayanan Publik sebagai Cermin Kepercayaan

Di akhir pandangannya, Kang Adin mengingatkan bahwa pelayanan publik adalah representasi nyata dari kehadiran negara di tengah masyarakat. Di sanalah kepercayaan dibangun—dan sekaligus diuji.

“Pelayanan publik adalah cerminan dari kepedulian kita terhadap masyarakat. Di situlah kepercayaan dibangun, dan di situlah pula legitimasi itu dipertahankan,” pungkasnya.

Dalam konteks ini, kualitas pelayanan bukan hanya soal kinerja institusi, tetapi juga tentang menjaga harapan masyarakat agar tetap hidup. Karena pada akhirnya, setiap pelayanan yang diberikan bukan sekadar tindakan, melainkan bagian dari amanah besar untuk melindungi dan melayani kehidupan.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours