Warga Jatimulya Menagih Tanggung Jawab Sosial PT Suzuki, Forum RW Turun Ke Jalan

3 min read

Bekasi — Rasa keadilan warga Kelurahan Jatimulya akhirnya meledak ke ruang publik. Forum Ketua RW Kelurahan Jatimulya menggelar aksi damai di depan PT Suzuki Indomobil Motor, yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (18/12/2025) pagi.

Aksi yang diikuti puluhan Ketua RW dan perwakilan warga tersebut menjadi simbol akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap minimnya keberpihakan perusahaan besar terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Dengan membawa spanduk dan poster bernada kritis, massa menyuarakan satu pesan utama: industri boleh tumbuh, tetapi warga jangan ditinggalkan.

Koordinator aksi sekaligus Ketua Forum RW Jatimulya, Syaiful Hajat, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk permusuhan terhadap investasi, melainkan peringatan moral agar perusahaan membuka mata dan telinga terhadap realitas sosial di sekelilingnya.

“Kami tidak datang untuk mengganggu aktivitas perusahaan. Kami datang untuk menagih perhatian. Sudah terlalu lama warga Jatimulya hanya menjadi penonton atas megahnya industri yang berdiri di tanah kami sendiri,” tegas Syaiful.

Menurutnya, keberadaan perusahaan berskala nasional seharusnya berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial yang nyata, bukan sekadar jargon CSR yang sulit dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Warga menilai kontribusi perusahaan, baik dalam penyerapan tenaga kerja lokal maupun peningkatan kesejahteraan warga, masih jauh dari harapan.

“Industri terus berkembang, tapi warga sekitar masih bertanya-tanya: di mana posisi kami? Apakah hanya sebagai dampak, bukan sebagai mitra?” sindirnya.

Dalam aksi tersebut, Advokat Suranto, S.E., S.H., CCD., yang turut memberikan orasi hukum, mengingatkan agar perjuangan warga tetap berada di koridor konstitusional. Ia menegaskan bahwa aksi damai justru memperlihatkan kedewasaan demokrasi masyarakat Jatimulya.

“Sampaikan aspirasi sesuai aturan yang berlaku, tetap fokus dan beretika. Jangan mudah diprovokasi. Warga Jatimulya adalah masyarakat yang beradab dan tahu hukum,” ujar Suranto dengan nada tegas.

Ia juga menekankan bahwa dialog adalah jalan utama, namun diam terlalu lama juga bukan pilihan, terlebih ketika hak sosial masyarakat terabaikan.

Sementara itu, Ketua Forum Kalimalang, Silalahi, menyatakan bahwa aksi ini bukan titik akhir, melainkan awal dari tekanan yang lebih besar. Ia mengungkapkan bahwa upaya mediasi sebelumnya gagal dilanjutkan akibat persoalan administrasi, sehingga warga memilih kembali turun ke jalan.

“Kami pastikan hari Senin masyarakat Jatimulya akan datang lebih banyak. Semua pintu masuk akan kami tutup. Kami tidak menuntut berlebihan—masyarakat hanya ingin diajak kerja sama,” tegas Silalahi, yang disambut sorak dukungan massa.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras bahwa kesabaran warga memiliki batas. Ketika dialog tidak segera dibuka, eskalasi tekanan sosial menjadi keniscayaan.

Aksi damai berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian dan unsur keamanan setempat. Hingga massa membubarkan diri, situasi di sekitar lokasi terpantau aman dan kondusif. Namun pesan yang ditinggalkan jelas: warga tidak akan diam jika terus diabaikan.

Kini bola berada di tangan manajemen PT Suzuki Indomobil Motor—apakah memilih membuka ruang dialog dan menjadikan masyarakat sebagai mitra, atau membiarkan ketegangan sosial terus membesar di halaman pabriknya sendiri.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours