Pasanggiri Calung Karawang Jadi Ruang Silaturahmi Seniman, Warisan Sunda Terus Menyala

Karawang — Nuansa kebersamaan dan semangat pelestarian budaya terasa kental dalam pembukaan Pasanggiri Calung se-Kabupaten Karawang yang digelar pada Sabtu malam (6/12/2025). Acara yang menjadi ruang ekspresi para seniman calung ini dibuka langsung oleh Ketua PANCAKA (Paguyuban Calung Karawang), Ita Edward Dita, dengan sambutan penuh kehangatan dan apresiasi.

Dalam sambutannya, Ita Edward Dita mengucapkan terima kasih kepada Anggota DPRD Kabupaten Karawang dari Fraksi NasDem, H. Erick Heryawan Kusuma, S.E., atas dukungan dan perhatiannya terhadap pelestarian seni budaya, khususnya seni calung yang menjadi bagian penting dari identitas Sunda di Karawang.

 

Ita menegaskan bahwa Pasanggiri Calung ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan bentuk kepedulian nyata untuk memotivasi para seniman agar terus berkarya di tengah derasnya arus modernisasi. Ia mengingatkan bahwa seni calung telah hadir di Karawang sejak era 1970-an dan menjadi saksi perjalanan budaya masyarakat Sunda dari generasi ke generasi.

“Secara pribadi, saya mulai mengenal dan membentuk grup calung sejak tahun 1985 hingga 1990-an. Lalu di tahun 2000-an, bersama Uwa Hen-hen kami berinisiatif membentuk paguyuban calung agar seni ini tetap hidup dan terjaga,” ungkap Ita dengan penuh kebanggaan.

Ia pun berharap Pasanggiri Calung Karawang yang diawali pada malam hari ini dapat berjalan lancar hingga akhir, sekaligus menjadi momentum kebangkitan seni tradisi yang sarat nilai, tawa, dan kebersamaan.

Sementara itu, H. Erick Heryawan Kusuma, S.E., yang dikenal sebagai sosok pemerhati seni dan budaya di Kabupaten Karawang, dalam sambutannya terlebih dahulu menyampaikan rasa duka dan empati atas musibah banjir yang melanda sejumlah desa di Karawang. Ia berharap masyarakat terdampak diberikan kekuatan, kesabaran, dan kemudahan dalam menghadapi ujian tersebut.

Erick kemudian mengungkapkan bahwa gagasan Pasanggiri Calung ini berawal dari obrolan santai dirinya bersama Uwa Hen-hen, yang sama-sama memiliki kegelisahan akan nasib para seniman dan budayawan lokal. Dari diskusi sederhana itulah muncul tekad untuk menghadirkan sebuah festival seni budaya yang mampu memuliakan para pelaku seni Karawang.

“Dalam waktu yang relatif singkat, alhamdulillah agenda Pasanggiri Calung se-Kabupaten Karawang ini bisa terwujud. Walaupun digelar secara sederhana, esensinya sangat kuat, yakni melestarikan seni budaya Sunda sebagai identitas kita bersama,” ujarnya.

Erick menilai seni tradisi seperti calung bukan hanya media hiburan, tetapi juga cermin karakter orang Sunda yang ramah, penuh canda, dan menjunjung kebersamaan. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya pelestarian yang konsisten, generasi muda dikhawatirkan akan kehilangan jati dirinya sebagai orang Sunda.

Ia pun berharap Pasanggiri Calung ini dapat menjadi agenda rutin yang digelar minimal satu kali dalam setahun, agar api semangat seni budaya tetap menyala sekaligus menjadi hiburan yang menyejukkan bagi masyarakat Karawang.

“Memang tidak ada gading yang tak retak. Namun dengan niat tulus untuk melestarikan budaya, kita akan terus berupaya semaksimal mungkin. Semoga para seniman dan budayawan, khususnya seniman calung, semakin bersemangat berkarya, dan masyarakat Karawang bisa terhibur serta bangga dengan budayanya sendiri,” pungkas Erick.

Dengan denting bambu yang ritmis, tawa penonton yang renyah, serta semangat kebersamaan yang menyatu, Pasanggiri Calung Karawang menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki ruang terhormat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Bagikan berita/artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *