Kabupaten Bekasi — Semangat kebersamaan kembali membuktikan kekuatannya. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, petugas teknis, dan masyarakat, saluran irigasi SS Kalenderwak di Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, kini kembali mengalirkan kehidupan bagi ratusan hektar lahan pertanian.
Kegiatan kerja bakti yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Karangsari, H. Bao Umbara, bersama jajaran petugas PJT II Lemah Abang serta para petani, menjadi cerminan nyata dari makna sinergi—yakni kerja bersama yang menghadirkan manfaat lebih besar bagi kepentingan bersama. Aksi ini difokuskan pada pembersihan saluran sepanjang jalur strategis irigasi yang selama ini tersumbat oleh tumpukan sampah.
Dengan penuh semangat gotong royong, puluhan warga dari berbagai kampung bahu-membahu mengangkat sampah yang menghambat aliran air. Upaya tersebut bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan wujud kepedulian kolektif terhadap keberlangsungan pertanian—sektor vital yang menjadi penopang kehidupan masyarakat desa.
H. Bao Umbara menegaskan bahwa saluran air merupakan “urat nadi” pertanian. Ketika alirannya terganggu, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh para petani, terutama menjelang musim tanam. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan kelancaran irigasi menjadi tanggung jawab bersama yang tidak bisa diabaikan.
Dari sisi teknis, petugas PJT II mengungkapkan bahwa sebelumnya kondisi saluran cukup memprihatinkan. Tumpukan sampah, yang sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga, menyebabkan aliran air tersendat bahkan berpotensi menimbulkan sedimentasi yang lebih parah. Namun berkat kolaborasi yang solid, hambatan tersebut berhasil diatasi, dan kini air kembali mengalir lancar menuju area persawahan seluas kurang lebih 100 hektar.
Lebih dari sekadar perbaikan infrastruktur, kegiatan ini juga menghadirkan pesan edukatif yang kuat: bahwa kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pertanian tidak dapat dipisahkan dari kesadaran kolektif masyarakat. Tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air, serta merawat fasilitas umum merupakan bentuk ibadah sosial yang berdampak luas.
Dalam perspektif yang lebih dalam, gotong royong ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran spiritual—tentang pentingnya menjaga amanah, merawat bumi, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik, kebersamaan seperti ini menjadi oase yang menghidupkan kembali ruh kebersamaan dan kepedulian sosial.
Keberhasilan normalisasi saluran SS Kalenderwak pun menjadi bukti bahwa ketika pemerintah desa, lembaga teknis, dan masyarakat berjalan dalam satu tujuan, maka persoalan yang semula tampak berat dapat diselesaikan dengan bijak dan efektif.
Pada akhirnya, air yang kembali mengalir bukan hanya menghidupkan sawah, tetapi juga menumbuhkan harapan—bahwa dengan sinergi, keteladanan, dan kepedulian, kesejahteraan masyarakat dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.


+ There are no comments
Add yours