Umum
Beranda / Umum / Halim Topan: Semua Calon Kades Wadas Sahabat, Satu Periode untuk Menata Desa

Halim Topan: Semua Calon Kades Wadas Sahabat, Satu Periode untuk Menata Desa

KARAWANG — Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, berbagai gagasan mengenai masa depan desa mulai mendapat perhatian masyarakat. Di tengah dinamika tersebut, Halim Topan hadir dengan sikap yang mengedepankan persahabatan, ketenangan, serta komitmen untuk membangun Desa Wadas secara bersama-sama.

Halim Topan menegaskan bahwa seluruh calon Kepala Desa Wadas merupakan sahabatnya. Karena itu, ia memandang Pilkades bukan sekadar momentum politik desa, melainkan ruang bagi masyarakat untuk melihat, menilai, dan memilih gagasan terbaik bagi masa depan Wadas.

“Saya menganggap semua calon Kepala Desa Wadas adalah sahabat saya. Jadi bagi saya, ini bukan persoalan ambisi pribadi. Saya juga sebenarnya tidak merasa mencalonkan diri,” ujar Halim Topan.

Menurut Halim, dorongan untuk maju justru datang dari berbagai elemen masyarakat. Para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, pelaku UMKM, budayawan, tokoh pendidikan, serta tokoh kesehatan disebut turut memberikan dorongan agar dirinya bersedia mengambil amanah sebagai Kepala Desa Wadas.

“Saya banyak didatangi dan didorong oleh para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, para pelaku UMKM, budayawan, tokoh pendidikan dan kesehatan. Mereka menginginkan saya untuk menjadi Kepala Desa Wadas. Karena itu, saya melihatnya sebagai sebuah kepercayaan dan amanah dari masyarakat, bukan sebagai ambisi untuk mendapatkan jabatan,” tuturnya.

Sahertian Lyonardo: Abdul Gofur Sosok Jujur, Amanah dan Berintegritas untuk Wadas Satu

Bagi Halim, keberagaman unsur masyarakat tersebut justru menjadi kekuatan penting dalam membangun desa. Menurutnya, Desa Wadas tidak dapat dibangun hanya dari satu perspektif. Setiap kelompok masyarakat memiliki kebutuhan, pengalaman, potensi, dan kontribusi yang berbeda sehingga seluruhnya perlu mendapatkan ruang dalam proses pembangunan.

Tokoh perempuan, misalnya, dinilai memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga, pemberdayaan masyarakat, pendidikan anak, hingga penguatan ekonomi keluarga. Sementara para pemuda merupakan energi penting bagi desa, terutama dalam pengembangan kreativitas, teknologi, olahraga, kegiatan sosial, serta berbagai inovasi yang dapat mendorong kemajuan desa.

Demikian pula dengan para pelaku UMKM yang menurut Halim merupakan salah satu kekuatan ekonomi masyarakat yang harus mendapatkan perhatian serius. Pemerintahan desa ke depan, menurutnya, harus mampu menciptakan ekosistem yang mendorong UMKM berkembang, mulai dari peningkatan kapasitas, pemasaran, legalitas usaha, hingga pemanfaatan teknologi dan potensi ekonomi lokal.

Di bidang kebudayaan, Halim juga menilai para budayawan memiliki posisi penting dalam menjaga identitas dan karakter Desa Wadas. Kemajuan desa, menurutnya, tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budaya dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Sementara dalam bidang pendidikan dan kesehatan, ia memandang keduanya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Pemerintahan desa harus hadir untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pihak agar akses terhadap pendidikan, kesehatan, pembinaan generasi muda, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dapat terus ditingkatkan.

Ketua WBI H. Apud Syaepudin Nilai Hj. Ani Siti Rohmah HH Sosok yang Pantas Memimpin Kalijaya

Pengalaman Halim Topan selama menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wadas membuat dirinya memahami secara langsung berbagai dinamika penyelenggaraan pemerintahan desa. Dari pengalaman tersebut, ia melihat masih terdapat sejumlah aspek tata kelola pemerintahan yang perlu dibenahi agar berjalan lebih efektif, tertib, transparan, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Karena itu, apabila mendapatkan amanah masyarakat, Halim tidak menawarkan perubahan yang bersifat instan. Ia ingin membangun pemerintahan desa melalui proses yang terencana, terukur, disiplin, dan berkesinambungan.

“Saya hanya ingin menata pemerintahan Desa Wadas menjadi lebih baik. Pemerintahan harus transparan, akuntabel, disiplin dan dijalankan dengan integritas. Semua kebijakan harus memiliki tujuan yang jelas dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.

Halim juga memiliki pandangan tersendiri mengenai masa kepemimpinan. Ia menyatakan bahwa dirinya cukup dengan satu periode apabila kelak diberikan kepercayaan untuk memimpin Desa Wadas. Baginya, satu periode harus mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun fondasi pemerintahan yang kuat dan meninggalkan sistem yang baik.

Ia menyusun tahapan pembangunan tersebut secara bertahap. Tahun pertama akan difokuskan pada konsolidasi internal pemerintahan desa, pembenahan sistem kerja, penguatan koordinasi, serta pemetaan berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat.

Putih Sari: Pembangunan Keluarga Harus Melibatkan Semua, dari Remaja hingga Lansia

Pada tahun kedua, berbagai program yang telah dirancang mulai dilaksanakan secara lebih konkret. Pada tahap ini, pelaksanaan program juga harus disertai evaluasi agar setiap kebijakan dapat diukur efektivitasnya dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kemudian pada tahun ketiga, Halim berharap berbagai program yang telah dijalankan mulai memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. Dengan perencanaan yang sistematis, evaluasi berkelanjutan, serta tata kelola yang disiplin, pembangunan desa diharapkan dapat berjalan secara konsisten hingga akhir masa kepemimpinan.

“Konsep saya sederhana. Tahun pertama konsolidasi internal pemerintahan desa. Tahun kedua mulai menjalankan program sekaligus evaluasi. Tahun ketiga hasil dari program-program itu mulai bisa dirasakan masyarakat. Setelah fondasinya kuat, pembangunan bisa berjalan lebih terarah,” ungkapnya.

Bagi Halim, kemajuan Desa Wadas tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur. Desa yang maju harus memiliki pemerintahan yang tertib, pelayanan publik yang baik, lingkungan yang aman, ekonomi masyarakat yang berkembang, pendidikan yang semakin baik, layanan kesehatan yang semakin kuat, kebudayaan yang tetap terjaga, serta ruang partisipasi yang luas bagi seluruh masyarakat.

Ia ingin pemerintahan desa ke depan mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat. Tidak ada kelompok yang merasa berada di luar lingkaran pembangunan. Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, pelaku UMKM, budayawan, insan pendidikan, tenaga kesehatan, serta berbagai komunitas masyarakat harus mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi dan memberikan kontribusi.

Menurutnya, konsep pembangunan seperti itu akan membuat kebijakan desa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat karena dirumuskan dengan mendengarkan suara dari berbagai lapisan kehidupan.

“Kalau masyarakat memberikan amanah kepada saya, saya ingin pemerintahan desa benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat di segala lini. Kita ingin mendengar aspirasi semua pihak. Perempuan, pemuda, pelaku UMKM, budayawan, pendidikan, kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, semuanya mempunyai peran dalam membangun Wadas,” katanya.

Halim juga menekankan bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi budaya dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana pemerintahan bekerja, bagaimana program direncanakan, serta bagaimana kebijakan dan anggaran diarahkan untuk kepentingan bersama.

Integritas, lanjutnya, harus menjadi prinsip dalam setiap pengambilan keputusan. Pemerintahan desa harus dikelola secara profesional dan disiplin agar kepercayaan masyarakat dapat dijaga melalui kerja nyata.

Ia pun berharap seluruh tahapan Pilkades Wadas dapat berlangsung dalam suasana yang sejuk, santun, dan penuh persaudaraan. Perbedaan pilihan merupakan bagian dari demokrasi, sementara kebersamaan masyarakat harus tetap menjadi kekuatan utama dalam membangun desa.

Dengan pengalaman sebagai Ketua BPD serta dorongan dari berbagai unsur masyarakat, Halim Topan menawarkan gagasan kepemimpinan yang berorientasi pada pembenahan sistem dan peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan. Ia ingin memastikan Desa Wadas memiliki fondasi pemerintahan yang lebih kuat serta kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, bagi Halim Topan, jabatan Kepala Desa bukanlah tujuan, melainkan amanah untuk bekerja. Satu periode pun, menurutnya, sudah cukup apabila benar-benar digunakan untuk menata pemerintahan, menjalankan program secara konsisten, melakukan evaluasi, dan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

Desa Wadas yang lebih maju, amanah, transparan, akuntabel, disiplin, berbudaya, sehat, berpendidikan, memiliki ekonomi masyarakat yang kuat, serta semakin sejahtera menjadi orientasi utama yang ingin diwujudkannya—dengan membangun desa bersama seluruh elemen masyarakat dan menempatkan kepentingan warga sebagai pusat dari setiap kebijakan.

Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement