Umum
Beranda / Umum / Putih Sari: Pembangunan Keluarga Harus Melibatkan Semua, dari Remaja hingga Lansia

Putih Sari: Pembangunan Keluarga Harus Melibatkan Semua, dari Remaja hingga Lansia

BEKASI — Pembangunan keluarga bukanlah tanggung jawab satu kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari remaja, pasangan muda, orang tua, keluarga dengan anak, hingga masyarakat lanjut usia, semuanya memiliki peran dalam membangun kualitas manusia Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Putih Sari, dalam kegiatan sosialisasi program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) RI di wilayah Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, perwakilan DPPKB Kabupaten Bekasi dan Provinsi Jawa Barat, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi Gerindra Darissalam, serta tokoh masyarakat, tokoh agama, kader dan berbagai unsur masyarakat lainnya.

Dalam sambutannya, Putih Sari menegaskan bahwa penguatan kependudukan dan pembangunan keluarga merupakan bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Menurutnya, penguatan kelembagaan BKKBN menjadi kementerian menunjukkan bahwa pembangunan keluarga dan kualitas penduduk memiliki posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia.

Putih Sari Dorong Perlindungan Pekerja melalui BPJS Ketenagakerjaan, Warga Waringin Jaya Diajak Pahami Pentingnya Jaminan Sosial

“Urusan kependudukan dan keluarga menjadi salah satu hal yang penting dan masuk dalam program strategis pemerintah. Karena itu, yang sebelumnya badan kini menjadi kementerian, yaitu Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga,” kata Putih Sari.

Ia menjelaskan, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang tumbuh, belajar, memperoleh kasih sayang, membangun karakter dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, pembangunan keluarga harus dipandang secara luas dan tidak terbatas pada persoalan perencanaan jumlah anak.

Menurut Putih Sari, setiap fase kehidupan memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Remaja membutuhkan edukasi dan persiapan yang baik sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. Pasangan muda membutuhkan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Sementara orang tua membutuhkan dukungan dalam pengasuhan, pendidikan serta pemenuhan kesehatan anak.

“Pembangunan keluarga itu merupakan sebuah siklus. Dimulai dari remaja, sebelum membentuk keluarga, kemudian memasuki masa kehamilan, kelahiran, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa sampai lansia. Semua tahapan itu harus kita pikirkan dan persiapkan,” jelasnya.

Putih Sari juga menekankan bahwa tidak boleh ada masyarakat yang merasa dirinya berada di luar program pembangunan keluarga. Termasuk masyarakat lanjut usia yang tetap memiliki peran penting melalui pengalaman, keteladanan, serta kontribusinya dalam keluarga dan lingkungan sosial.

Perhimpunan UKM Indonesia Dukung Ketegasan BGN Tertibkan 1.999 Dapur SPPG, Gus Din: Demi Mutu dan Keamanan MBG

“Walaupun sudah lanjut usia, bukan berarti tidak bisa ikut dalam program-program pembangunan keluarga. Semua memiliki peran sesuai dengan usia, pengalaman dan kapasitasnya masing-masing,” ujarnya.

Dalam konteks keluarga berencana, Putih Sari mengajak masyarakat melihat program tersebut secara lebih komprehensif. Keluarga berencana, kata dia, bukan sekadar persoalan penggunaan alat kontrasepsi, tetapi merupakan upaya memberikan ruang kepada keluarga untuk merencanakan kehidupan secara bertanggung jawab sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Perencanaan tersebut mencakup kesiapan pasangan, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, pendidikan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga persiapan masa depan keluarga. Dengan demikian, setiap keluarga diharapkan dapat mengambil keputusan secara sadar, bertanggung jawab dan berdasarkan informasi yang benar.

“Yang penting adalah bagaimana keluarga dapat merencanakan kehidupannya dengan baik. Bagaimana anak-anak yang sudah lahir kita siapkan agar tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang baik dan kelak mampu membangun keluarga yang berkualitas,” tutur Putih Sari.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan kependudukan tidak semata-mata berbicara mengenai angka pertumbuhan penduduk. Indonesia membutuhkan penduduk yang sehat, berpendidikan, produktif, berkarakter dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

Dirman Nomor Urut 2, Bawa Semangat Baru untuk Waringin Jaya

Jumlah penduduk yang besar, menurutnya, merupakan potensi luar biasa bagi Indonesia apabila dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya, pertumbuhan penduduk tanpa diikuti peningkatan kualitas dapat menjadi tantangan pembangunan.

“Jangan hanya melihat jumlah penduduknya. Kualitas juga harus diperhatikan. Kualitas pendidikan, kesehatan dan produktivitas harus berjalan bersama,” tegasnya.

Putih Sari menilai, keluarga yang berkualitas tidak harus dimaknai sebagai keluarga yang sempurna. Setiap keluarga memiliki latar belakang, kondisi ekonomi, tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk terus belajar, saling mendukung dan menciptakan lingkungan yang aman serta sehat bagi seluruh anggota keluarga.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun budaya saling mendukung, bukan saling menghakimi. Keluarga yang sedang menghadapi kesulitan membutuhkan akses informasi, pelayanan dan pendampingan agar dapat berkembang dan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Keberhasilan pembangunan membutuhkan peran serta masyarakat. Kita mulai dari keluarga masing-masing, sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita,” ungkapnya.

Putih Sari berharap sosialisasi Kemendukbangga/BKKBN dapat menjadi ruang dialog dan edukasi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pembangunan manusia dimulai dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, ketika setiap keluarga berupaya menciptakan lingkungan yang sehat, penuh kasih sayang, terbuka terhadap pendidikan, menghargai setiap anggota keluarga dan mampu merencanakan masa depan dengan baik, maka langkah tersebut sesungguhnya telah menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

“Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari keluarga kita sendiri. Kalau keluarga-keluarga kita semakin sehat, cerdas dan sejahtera, insyaallah masyarakat dan bangsa kita juga akan semakin kuat,” pungkas Putih Sari.

Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun Indonesia yang tidak hanya besar secara jumlah penduduk, tetapi juga unggul dalam kualitas manusia—sebuah fondasi penting untuk menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045.

Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement