Darsum: Keteladanan Cellica Nurachadiana Adalah Cermin Kepemimpinan Berintegritas

3 min read

Bekasi — Di tengah dinamika politik yang kerap diwarnai persepsi pragmatis, pandangan yang menyejukkan justru disampaikan Darsum, Wakil Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Bekasi. Ia menekankan pentingnya keteladanan sebagai fondasi utama dalam membangun politik yang berintegritas, dengan menempatkan sosok Cellica Nurachadiana sebagai figur inspiratif yang layak dijadikan rujukan.

Bagi Darsum, loyalitas terhadap partai bukan sekadar retorika, melainkan sikap yang harus diwujudkan melalui konsistensi, dedikasi, dan pengabdian nyata kepada masyarakat. Dalam pandangannya, kader yang kokoh adalah mereka yang mampu menjaga komitmen, teguh dalam prinsip, serta merawat marwah perjuangan politik secara berkelanjutan.

“Yang pasti, kader itu harus setia dan loyal terhadap partai. Itu fondasi utama dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan perjuangan,” ujarnya.

Kepemimpinan yang Melampaui Sekat Persepsi

Lebih jauh, Darsum menegaskan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh faktor gender, melainkan oleh kapasitas, integritas, dan rekam jejak yang teruji. Ia menilai bahwa Cellica Nurachadiana telah membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan mampu tampil kuat, adaptif, dan solutif dalam menghadapi kompleksitas tantangan publik.

“Walau perempuan, figur kepemimpinannya tidak diragukan. Beliau menunjukkan bahwa kualitas pemimpin ditentukan oleh kerja nyata, bukan oleh persepsi,” ungkapnya.

Rekam Jejak yang Teruji dan Berpihak pada Kesejahteraan

Dalam pandangan Darsum, perjalanan karier Cellica Nurachadiana merupakan cerminan nyata dari kepemimpinan yang jujur, amanah, dan konsisten. Mulai dari Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Wakil Bupati Karawang, hingga menjabat sebagai Bupati Karawang selama dua periode, seluruh amanah tersebut dijalankan dengan stabilitas dan kinerja yang terjaga.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti capaian strategis yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam sektor ketenagakerjaan.

“Bahkan, saat beliau menjabat sebagai Bupati Karawang, mampu mengawal UMK Karawang menjadi yang terbesar se-Indonesia pada saat itu. Ini bukan sekadar capaian angka, tetapi bukti keberpihakan nyata kepada pekerja dan masyarakat,” tegas Darsum.

Menurutnya, keberhasilan tersebut mencerminkan keberanian seorang pemimpin dalam mengambil posisi yang berpihak, sekaligus kemampuan menjaga keseimbangan di tengah dinamika industrialisasi Karawang yang kompleks.

Konsistensi di Tingkat Nasional

Kini, sebagai Anggota DPR RI di Komisi IX, kiprah Cellica Nurachadiana dinilai tetap berada pada jalur yang sama—aktif, responsif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Darsum menilai, peran legislatif yang dijalankan tidak bersifat simbolik, melainkan substantif. Kehadiran di tengah masyarakat, pengawalan terhadap mitra kerja, serta konsistensi dalam menyerap aspirasi menjadi bagian dari komitmen yang terus dijaga.

“Beliau tidak santai-santai duduk di kursi wakil rakyat. Justru terus bergerak, turun ke masyarakat, mengawal kerja-kerja di Komisi IX tanpa mengenal lelah,” imbuhnya.

Teladan Politik yang Menginspirasi

Bagi Darsum, rekam jejak tersebut tidak hanya menjadi catatan perjalanan personal, tetapi juga sumber inspirasi bagi kader muda dalam membangun arah politik yang sehat dan bermartabat.

Ia mengaku secara pribadi menjadikan sosok Cellica Nurachadiana sebagai panutan dalam berpolitik—bukan hanya dalam strategi, tetapi juga dalam menjaga nilai, etika, dan tanggung jawab publik.

“Bagi saya pribadi, beliau layak dijadikan contoh dalam berpolitik. Keteladanan seperti inilah yang dibutuhkan untuk membangun kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.

Meneguhkan Politik Berbasis Keteladanan dan Keberpihakan

Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa politik sejatinya tidak semata tentang kekuasaan, melainkan tentang keteladanan dan keberpihakan yang nyata. Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, figur dengan integritas terjaga, keberanian mengambil sikap, serta rekam jejak yang kuat menjadi fondasi utama dalam merawat kepercayaan publik.

Dari sana, politik menemukan kembali makna hakikinya—sebagai jalan pengabdian yang menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan harapan bagi masyarakat luas.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours