Latihan Baris-Berbaris: Fondasi Disiplin dan Karakter Bangsa

2 min read

Oleh: Ahsanul Fuad Saragih
Peserta Diklat PPIH Tahun 2026

Latihan baris-berbaris (PBB) kerap dipersepsikan semata sebagai aktivitas fisik yang identik dengan dunia militer. Namun di balik gerakan serempak dan komando yang tegas, tersimpan nilai pendidikan karakter yang mendalam dan relevan bagi pembentukan kepribadian manusia dalam kehidupan sosial modern.

Sejumlah kajian psikologi perilaku dan pendidikan karakter menunjukkan adanya korelasi kuat antara PBB dan pembentukan self-regulation atau kemampuan mengendalikan diri. Dalam setiap latihan, peserta dibiasakan untuk diam saat diperlukan, bergerak sesuai perintah, menunda keinginan pribadi, serta menyesuaikan diri dengan ritme kelompok. Proses ini secara tidak langsung melatih fungsi prefrontal cortex—bagian otak yang berperan dalam disiplin, kontrol impuls, perencanaan, dan kepatuhan terhadap aturan.

Lebih dari sekadar keteraturan fisik, PBB juga membangun dimensi psikologis kolektif. Saat langkah ratusan orang diselaraskan dalam tempo dan arah yang sama, tubuh dan pikiran memasuki kondisi sinkronisasi. Pada fase ini, otak melepaskan hormon oksitosin yang memperkuat rasa keterikatan sosial. Dampaknya adalah tumbuhnya rasa kebersamaan, loyalitas, serta kesadaran bahwa kepentingan bersama berada di atas kepentingan individu.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pembelajaran tentang pengelolaan ego. Dalam barisan, tidak ada ruang untuk tampil berbeda. Setiap kesalahan akan tampak dan berdampak pada keseluruhan formasi. Situasi ini melatih kerendahan hati, tanggung jawab kolektif, serta rasa malu yang sehat—bukan sebagai hukuman psikologis, melainkan sebagai kompas moral untuk berbuat lebih baik.

Tidak dapat dipungkiri, latihan baris-berbaris sering dirasakan “keras”. Namun kekerasan tersebut bukan tanpa tujuan. PBB dirancang untuk mematahkan kebiasaan impulsif, sikap egosentris, dan kecenderungan bertindak semaunya. Dalam tradisi keilmuan Islam, proses ini dikenal sebagai riyāḍah an-nafs—latihan menundukkan jiwa. Nilainya sejalan dengan shalat berjamaah yang menekankan keteraturan, kepatuhan pada imam, dan keselarasan gerak sebagai simbol ketaatan dan kebersamaan.

Sejumlah pengamat pendidikan menilai, generasi yang minim terpapar latihan semacam ini berpotensi mengalami kerapuhan sosial. Tanpa pembiasaan disiplin kolektif, individu cenderung sulit tunduk pada sistem, kurang tahan terhadap aturan, mudah tersinggung, dan kesulitan membangun kekompakan. Hal ini tercermin dalam berbagai organisasi yang kerap diwarnai konflik internal dan rapuh dalam menghadapi tekanan.

Sebagai penutup, latihan baris-berbaris sejatinya bukan tentang militerisasi, melainkan sebuah “teknologi pembentuk karakter”. Ia menanamkan disiplin, pengendalian diri, kesetiaan, ketahanan mental, semangat kebersamaan, serta ketaatan pada struktur. Tidak mengherankan jika sejak dahulu, negara, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi besar, hingga pasukan Rasulullah ﷺ menempatkan barisan dan formasi sebagai bagian penting dalam membangun peradaban yang kuat dan beradab.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours