KARAWANG — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Jawa Barat mengumumkan komitmen tegas untuk melawan premanisme birokrasi yang dinilai menjadi penghambat utama pembangunan dan pelayanan publik di provinsi ini.
Ketua DPD GRIB Jaya Jabar, Gabryel Alexsander, menegaskan bahwa pihaknya menolak segala bentuk premanisme—terutama yang bersembunyi di balik meja dan dasi jabatan.
“Preman itu bukan cuma yang di jalanan, tapi juga yang berdasi. Mereka lebih sadis karena yang dimakan adalah ruang rakyat,” tegas Gabryel dalam pernyataan politiknya saat Halalbihalal dan Konsolidasi GRIB Jaya Jawa Barat, Jumat (11/4), yang dihadiri perwakilan dari 27 kabupaten/kota.
Dalam forum tersebut, GRIB Jaya juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat yang dinilai sejalan dengan semangat pemberantasan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dan premanisme birokrasi.
Satgas Anti-Preman Birokrasi
Sebagai langkah konkret, GRIB Jaya akan membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Birokrasi. Satgas ini akan bertugas memantau, mengumpulkan data, dan melaporkan segala bentuk penyalahgunaan anggaran serta wewenang di lingkungan pemerintahan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Kami hadir bukan untuk jadi penonton. GRIB Jaya ingin menjadi mitra kritis pemerintah. Kami bersama masyarakat siap berada di garis depan melawan penyimpangan,” ujar Gabryel.
Digitalisasi dan Modernisasi Organisasi
Tak hanya fokus pada pengawasan birokrasi, GRIB Jaya juga memperkuat konsolidasi internal. Salah satu agenda utama ke depan adalah digitalisasi keanggotaan melalui peluncuran e-KTA (Kartu Tanda Anggota Elektronik).
Gabryel menyebut, digitalisasi ini bertujuan menertibkan struktur organisasi sekaligus mempercepat distribusi informasi dan mobilisasi kader di seluruh wilayah Jawa Barat.
Program kerja GRIB Jaya akan difokuskan pada tiga sektor utama: sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan, dengan pendekatan langsung pada kebutuhan warga di tingkat akar rumput.
Ribuan Hadir, Semangat Perubahan Menguat
Kegiatan Halalbihalal dan Konsolidasi GRIB Jaya semula dirancang untuk 500 peserta. Namun antusiasme tinggi membuat ribuan anggota dan simpatisan memadati lokasi acara.

“Ini bukti bahwa semangat perubahan sudah menggelora. GRIB Jaya bukan sekadar ormas, tapi gerakan rakyat yang siap membawa Jawa Barat lebih bersih dari premanisme birokrasi dan praktik kotor lainnya,” pungkas Gabryel.

