Umum
Beranda / Umum / Adin Jaelani Sopian Ajak Generasi Muda Melek Politik dan Berani Menjadi Pemimpin

Adin Jaelani Sopian Ajak Generasi Muda Melek Politik dan Berani Menjadi Pemimpin

KARAWANG — Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Karawang periode 2025–2030, Adin Jaelani Sopian, S.E., M.E., mengajak generasi muda untuk meningkatkan literasi politik, membangun integritas, serta berani mengambil peran dalam menentukan masa depan bangsa. Menurutnya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan instrumen penting untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Adin dalam kegiatan Legislative School bersama Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, H. Jalal Abdul Nasir, A.K., di Galeri Nyi Pager Asih, Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang.

Dalam kesempatan tersebut, Adin menjelaskan bahwa kehadirannya mendampingi H. Jalal Abdul Nasir merupakan bagian dari tanggung jawab organisasi sekaligus bentuk dukungan terhadap pendidikan politik bagi generasi muda, khususnya di wilayah daerah pemilihan Jawa Barat VII yang meliputi Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Adin menegaskan bahwa partai politik merupakan bagian dari sistem demokrasi Indonesia yang keberadaannya diakui oleh konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Melalui mekanisme demokrasi, partai politik menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pencalonan dan pemilihan pejabat publik, baik di lembaga legislatif maupun dalam kontestasi kepemimpinan daerah.

Generasi Muda Adalah Calon Pemimpin Masa Depan

H. Margono Tegaskan Pentingnya Evaluasi Perlinsos dan Pelayanan Publik dalam Rapat Minggon Kecamatan Ciampel

Di hadapan para peserta, Adin mengingatkan bahwa generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut berpotensi menjadi pemimpin, anggota legislatif, kepala daerah, maupun penggerak perubahan sosial dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Karena itu, pendidikan politik sejak dini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya memahami proses demokrasi secara teoritis, tetapi juga memiliki kesiapan moral, intelektual, dan kepemimpinan untuk menjalankan amanah publik.

Ia kemudian mencontohkan sosok H. Jalal Abdul Nasir sebagai figur wakil rakyat yang menurutnya memberikan inspirasi melalui kesediaannya untuk terus turun ke daerah pemilihan dan bertemu langsung dengan konstituen.

Adin mengaku melihat bagaimana kesibukan seorang anggota DPR RI tidak hanya diisi dengan aktivitas di gedung parlemen, tetapi juga dengan upaya menyerap aspirasi masyarakat di daerah.

“Menurut saya, salah satu pelajaran penting dari sosok Pak Haji Jalal adalah bagaimana seorang pejabat publik tidak boleh lelah untuk turun ke masyarakat. Wakil rakyat harus bersedia mendengarkan secara langsung persoalan yang dihadapi warga, memahami kebutuhannya, dan memperjuangkannya melalui jalur yang tepat,” ungkap Adin.

H. Margono Tegaskan Pentingnya Evaluasi Perlinsos dan Pelayanan Publik dalam Rapat Minggon Kecamatan Ciampel

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan, popularitas, atau kewenangan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan bekerja bagi kepentingan masyarakat.

Mengapa Generasi Muda Harus Peduli Politik?

Dalam sesi interaktif, Adin mengajukan pertanyaan mendasar kepada peserta, yakni mengapa seseorang perlu berpolitik dan apa pentingnya politik dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang peserta memberikan pandangan bahwa politik memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat, bahkan dalam hal-hal sederhana yang dirasakan setiap hari.

Menanggapi hal tersebut, Adin menjelaskan bahwa keputusan politik memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan dan kesehatan, ketersediaan lapangan kerja, hingga pembangunan infrastruktur dan kebijakan ekonomi.

Rapat Minggon Kecamatan Ciampel Perkuat Sinergi Pemerintahan Desa, Dorong Percepatan KDMP dan Optimalisasi Program Akhir Tahun 2026

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, termasuk kesulitan memperoleh pekerjaan dan ketidakpastian ekonomi, tidak dapat dilepaskan dari arah kebijakan publik yang ditetapkan oleh para pemegang kewenangan.

Karena itu, generasi muda perlu memahami bagaimana kebijakan dirumuskan, siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan, serta bagaimana masyarakat dapat berpartisipasi dalam mengawal pelaksanaannya.

Adin mengingatkan bahwa sikap apatis terhadap politik justru dapat membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk ikut menentukan arah pembangunan.

“Jangan sampai kita membenci politik, tetapi pada saat yang sama kita tidak memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan kita dipengaruhi oleh keputusan politik. Harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga masa depan ekonomi bangsa memiliki keterkaitan dengan kebijakan publik,” jelasnya.

Politik Tidak Selalu Kotor, Integritas Pelakunya yang Menentukan

Adin juga menyoroti pandangan sebagian masyarakat yang menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor dan tidak layak dimasuki oleh orang-orang baik.

Menurutnya, anggapan tersebut perlu diluruskan. Politik pada dasarnya merupakan ruang untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Kualitas politik sangat dipengaruhi oleh karakter, integritas, dan tujuan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ia mengingatkan bahwa ketika masyarakat yang memiliki kapasitas dan integritas memilih menjauh dari politik, ruang pengambilan keputusan berisiko semakin didominasi oleh pihak-pihak yang tidak memiliki komitmen kuat terhadap kepentingan publik.

Sebaliknya, apabila semakin banyak orang berintegritas, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian sosial yang terlibat dalam politik, peluang untuk menghadirkan pemerintahan yang bersih dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat akan semakin terbuka.

Dalam pemaparannya, Adin mengangkat pemikiran dramawan Jerman Bertolt Brecht yang kerap dikaitkan dengan kritik terhadap ketidaktahuan politik. Pemikiran tersebut mengingatkan bahwa ketidakpedulian terhadap politik bukanlah sikap yang sepenuhnya bebas dari konsekuensi, sebab keputusan politik tetap memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk mereka yang memilih untuk tidak peduli.

“Politik jangan hanya dipandang dari sisi buruknya. Kita harus melihat politik sebagai ruang pengabdian. Kalau orang-orang baik, orang-orang yang jujur, memiliki ilmu, dan peduli terhadap masyarakat mau terlibat, maka mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa membangun politik yang sehat membutuhkan keberanian untuk terlibat sekaligus kesediaan menjaga nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepentingan bersama.

Jangan Tukar Masa Depan dengan Politik Transaksional

Lebih jauh, Adin menyoroti pentingnya menjaga kualitas demokrasi melalui kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilih.

Ia mengingatkan bahwa suara rakyat merupakan amanah yang memiliki nilai besar bagi masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, masyarakat perlu mempertimbangkan rekam jejak, integritas, kapasitas, serta komitmen calon pemimpin sebelum menentukan pilihan.

Adin menyayangkan apabila hak politik yang begitu berharga ditukar dengan imbalan uang sesaat, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya, praktik politik transaksional dapat menjauhkan demokrasi dari tujuan utamanya, yakni melahirkan pemimpin yang mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan menjalankan pemerintahan secara bertanggung jawab.

“Jangan sampai suara kita yang sangat berharga hanya dihargai dengan Rp50 ribu. Kita harus berpikir jauh ke depan. Pemimpin yang kita pilih hari ini akan ikut menentukan kebijakan, pembangunan, dan masa depan anak-anak kita,” pesannya.

Ia mengajak generasi muda untuk menjadi bagian dari masyarakat yang kritis dan rasional, bukan hanya ketika menjelang pemilu, tetapi juga dalam mengawasi kinerja pejabat publik setelah mereka memperoleh mandat dari rakyat.

Bagi Adin, demokrasi yang berkualitas membutuhkan pemilih yang cerdas, berani menilai kinerja pemimpin secara objektif, serta tidak mudah dipengaruhi oleh politik uang maupun informasi yang menyesatkan.

PKS Membuka Ruang bagi Generasi Muda

Sebagai Ketua DPD PKS Kabupaten Karawang, Adin menegaskan bahwa partainya membuka ruang komunikasi dan silaturahmi bagi generasi muda yang ingin belajar mengenai politik, kepemimpinan, organisasi, dan proses demokrasi.

Ia berharap kegiatan Legislative School tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab publik.

Menurutnya, anak muda tidak harus menunggu menjadi anggota dewan atau menduduki jabatan tertentu untuk mulai berkontribusi. Pengabdian dapat dimulai melalui organisasi kemahasiswaan, komunitas sosial, kegiatan kemasyarakatan, pendidikan politik, hingga berbagai gerakan yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.

Adin juga mengundang generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh PKS untuk membangun komunikasi dan berdiskusi mengenai peluang berkontribusi melalui jalur politik yang sesuai dengan nilai, kapasitas, dan aspirasi mereka.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi generasi muda yang ingin bersilaturahmi, belajar, berdiskusi, dan mengenal lebih jauh dunia politik. Jika ada anak-anak muda yang memiliki gagasan, integritas, serta keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat, mari kita bangun komunikasi dan siapkan mereka menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang berani memasuki ruang pengambilan keputusan dengan membawa semangat perubahan, pemikiran yang konstruktif, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat luas.

Membangun Demokrasi dengan Ilmu, Integritas, dan Pengabdian

Melalui kegiatan Legislative School bersama H. Jalal Abdul Nasir, Adin Jaelani Sopian menegaskan bahwa masa depan demokrasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh para pejabat yang sedang memegang jabatan, tetapi juga oleh kualitas generasi yang tengah dipersiapkan untuk melanjutkan kepemimpinan.

Pendidikan politik menjadi penting agar generasi muda mampu memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, mengkritisi kebijakan secara bertanggung jawab, serta mengambil bagian dalam menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Ia meyakini bahwa perubahan tidak akan lahir hanya dari keluhan dan sikap saling menyalahkan. Perubahan membutuhkan pengetahuan, keberanian, integritas, serta keterlibatan nyata dari masyarakat.

Pada akhirnya, politik harus dikembalikan pada esensi pengabdiannya: memperjuangkan kepentingan publik, melahirkan kebijakan yang adil, dan memastikan kekuasaan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan Adin kepada generasi muda pun jelas: jangan menjauhi politik hanya karena melihat berbagai persoalan di dalamnya. Pelajari, pahami, awasi, dan jika memiliki kapasitas serta integritas, beranilah mengambil bagian untuk memperbaikinya.

Sebab, demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang baik, tetapi juga masyarakat yang cerdas dan generasi muda yang bersedia menjadi bagian dari solusi.

Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement