MUARA TEWEH, BARITO UTARA — Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Kesadaran masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan menghadapi dampak psikologis akibat bencana menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan Satgas Edukasi Karhutla Sespimma Angkatan ke-76 melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat di wilayah hukum Polres Barito Utara, Polda Kalimantan Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yakni Stadion Swakarya Muara Teweh dan Pasar Bebas Banjir (PBB) Muara Teweh. Kegiatan dirancang tidak sekadar memberikan informasi mengenai bahaya karhutla, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat agar mampu berperan aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Tim pelaksana terdiri dari tiga Serdik Sespimma, yakni Johannes Erwin Parlindungan Sihombong, S.E., M.H., Pangat Supriyadi, S.Kep., serta Felinsa Oktora Tanau, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Kehadiran personel dengan latar belakang keilmuan yang beragam memperkuat pendekatan edukasi yang menggabungkan aspek keamanan, kesehatan, lingkungan, serta psikologis masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan sosialisasi mengenai dampak karhutla sekaligus pemahaman mengenai regulasi yang mengatur pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Edukasi ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Satgas juga melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan membagikan masker kepada masyarakat sekaligus memberikan imbauan mengenai pentingnya menjaga kesehatan ketika menghadapi kondisi lingkungan yang terdampak asap maupun polusi akibat karhutla. Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan kesehatan diri dan keluarga.
Menariknya, kegiatan juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat. Melalui pengenalan teknik Tapping Psikologi sebagai bentuk energizer, masyarakat diajak mengenali cara sederhana untuk membantu mengelola emosi, stres, dan kecemasan ketika menghadapi situasi lingkungan yang tidak nyaman akibat dampak karhutla.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata berbicara tentang api dan lahan, tetapi juga menyangkut manusia yang berada di tengah situasi tersebut. Ketahanan masyarakat secara psikologis menjadi salah satu unsur penting agar warga tetap mampu berpikir jernih, menjaga kesehatan, serta mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi kondisi darurat lingkungan.
Selain membangun kesadaran mengenai kesehatan dan psikologis, edukasi juga diarahkan untuk mencegah penyalahgunaan kearifan lokal sebagai dalih melakukan pembakaran lahan secara tidak terkendali. Masyarakat diberikan pemahaman agar tidak memberikan ruang bagi oknum maupun pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memanfaatkan celah regulasi demi kepentingan yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat luas.
Satgas mendorong terbentuknya kesadaran kolektif agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pencegahan. Warga diharapkan saling mengingatkan dan melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan praktik pembakaran lahan yang diduga menyimpang dari ketentuan yang berlaku.
Seluruh rangkaian kegiatan kemudian dianalisis dan dievaluasi sebagai bahan laporan kepada Posko Satgas Karhutla Polda Kalimantan Tengah. Melalui kegiatan tersebut, Satgas Edukasi Karhutla Sespimma Angkatan ke-76 menegaskan pentingnya kolaborasi antara aparat, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dalam membangun budaya pencegahan karhutla.
Lebih dari sekadar kegiatan penyuluhan, kehadiran Satgas Edukasi Karhutla di Barito Utara menjadi pesan bahwa menjaga hutan, lahan, kesehatan, dan ketenangan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Pencegahan karhutla akan semakin kuat ketika pengetahuan berubah menjadi kesadaran, kesadaran berubah menjadi kepedulian, dan kepedulian diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.


+ There are no comments
Add yours