SAMARINDA — Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa peluang besar bagi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk memperkuat perekonomian sekaligus membangun kemandirian pangan. Pertumbuhan penduduk, investasi, aktivitas industri, dan mobilitas masyarakat akan meningkatkan kebutuhan pangan, sehingga Kaltim dituntut tidak sekadar menjadi wilayah tempat berdirinya IKN, tetapi juga mampu menjadi pemasok utama kebutuhan pangan Nusantara.
1. Momentum Besar bagi Kaltim
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (UNMUL) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara, Jumat (21/8/2026), di Ruang Teater Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., Samarinda. Forum tersebut membahas peluang, tantangan, serta strategi menjadikan Kaltim sebagai kekuatan pangan bagi IKN.
2. Produksi Jagung Melonjak
Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya, mengungkapkan produksi jagung Kaltim meningkat tajam dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025. Kenaikan lebih dari 160 persen tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian Kaltim memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.
3. Industri Membutuhkan Pasokan Besar
Peluang tersebut semakin terbuka karena kebutuhan industri terhadap jagung terus meningkat. Salah satu pabrik pengolahan di Samboja membutuhkan sekitar 40 hingga 50 ton jagung per hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sebenarnya tersedia, sehingga tantangan utama adalah membangun produksi yang konsisten, kualitas yang baik, serta sistem distribusi yang mampu menjamin kontinuitas pasokan.
4. Pertanian Harus Menjadi Bisnis Menjanjikan
Lani menegaskan bahwa kepastian pasar harus menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Berdasarkan simulasi yang dipaparkan, satu hektare lahan jagung berpotensi menghasilkan laba bersih sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per musim tanam. Karena itu, pertanian harus dipandang sebagai sektor bisnis, inovasi, dan kewirausahaan, bukan sekadar pekerjaan tradisional.
5. Beras Masih Menjadi Tantangan
Di tengah peningkatan produksi jagung, Kaltim masih menghadapi persoalan serius pada komoditas beras. Kaltim disebut mengalami defisit sekitar 170.000 ton beras setiap tahun dan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar apabila kebutuhan pangan IKN terus meningkat tanpa diimbangi peningkatan kapasitas produksi pangan lokal.
6. Alih Fungsi Lahan Harus Diantisipasi
Persoalan pangan semakin kompleks akibat berkurangnya lahan pertanian karena tekanan alih fungsi lahan untuk aktivitas pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah juga masih terjadi pada sektor peternakan. Karena itu, perlindungan lahan produktif dan pengembangan kawasan pertanian menjadi agenda penting dalam menjaga ketahanan pangan Kaltim.
7. Ketahanan Pangan Bukan Hanya Produksi
Guru Besar Fakultas Pertanian UNMUL, Prof. Dr. Bernatal Saragih, S.P., M.Si., mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan pangan. Aspek akses, pemanfaatan, dan stabilitas juga harus diperhatikan. Menurutnya, tingginya Indeks Ketahanan Pangan Kaltim harus diikuti dengan pemerataan akses pangan, terutama bagi masyarakat di wilayah pedalaman.
8. Hub Logistik Perlu Diperkuat
Untuk mengatasi persoalan distribusi, Prof. Bernatal mengusulkan pembangunan lima hub logistik regional yang mengintegrasikan jalur sungai, jalan nasional, pelabuhan, dan bandara. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menghubungkan sentra produksi dengan pasar secara lebih efisien sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini menjadi salah satu kendala utama distribusi pangan di Kaltim.
9. Kearifan Lokal Jangan Ditinggalkan
Tokoh adat Kaltim, Hendrik Tandoh, mengajak masyarakat kembali memperhatikan kearifan lokal dalam membangun ketahanan pangan. Ia mengingatkan bahwa masyarakat adat di pedalaman pada masa lalu memiliki sistem pangan yang relatif mandiri melalui pola perladangan dan pemanfaatan tanaman pangan serta obat-obatan. Menurutnya, perubahan orientasi kehidupan dan ekspansi investasi membuat sebagian praktik tersebut semakin terpinggirkan.
10. Pupuk Menjadi Modal Strategis
Perwakilan Pemuda Kaltim, Alfonsius Limba, menilai keberadaan industri pupuk di Kaltim merupakan modal strategis yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Ia mendorong mahasiswa dan pemuda ikut mendampingi petani dalam mengakses pupuk bersubsidi, sekaligus membantu menghubungkan program pemerintah dengan kebutuhan nyata di lapangan.
11. Pemuda Harus Menjadi Pemain Utama
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UNMUL, Ir. Suhardi, S.Pt., M.P., Ph.D., menegaskan bahwa ketahanan pangan membutuhkan generasi muda yang berani terjun langsung. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus tampil sebagai pemain utama melalui inovasi, teknologi, kewirausahaan, pendampingan petani, dan penciptaan nilai tambah di sektor pertanian.
12. Membangun Kaltim, Menghidupi Nusantara
Seminar tersebut menyatukan berbagai perspektif bahwa ketahanan pangan Kaltim membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, petani, mahasiswa, pemuda, masyarakat, dan media. IKN harus dipandang sebagai katalisator yang membuka pasar sekaligus kesempatan bagi Kaltim untuk naik kelas. Karena itu, Kaltim harus mampu menjadi produsen dan pemasok pangan utama bagi Nusantara, bukan sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.
Semangat tersebut dirangkum dalam satu pesan yang menjadi penutup seminar: “Membangun Kalimantan, Menghidupi Nusantara.”


+ There are no comments
Add yours