KARAWANG — Pendidikan bukan sekadar persoalan ruang kelas, kurikulum, dan regulasi. Di balik setiap kebijakan pendidikan, terdapat masa depan anak-anak yang membutuhkan kepastian untuk terus belajar dan berkembang. Kesadaran inilah yang mendorong gerakan “Lapor Kang Cucu” yang digagas penggiat seni dan sosial Cucu Hidayat untuk terus memperluas jejaring kolaborasi sosial di Kabupaten Karawang.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui jalinan sinergi strategis dengan Pondok Pesantren Lestari Alam Qurani, Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang. Pertemuan yang dikemas dalam suasana silaturahmi kebangsaan itu menjadi momentum mempertemukan kepedulian sosial, nilai-nilai keagamaan, dan komitmen bersama terhadap masa depan generasi muda.
Kolaborasi ini tidak berhenti pada seremoni silaturahmi. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk merumuskan pendekatan yang lebih komprehensif dalam merespons persoalan pendidikan yang muncul di tengah masyarakat, terutama kasus anak yang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan.
Pesantren dan Masyarakat Harus Berjalan Berdampingan
Pimpinan Pondok Pesantren Lestari Alam Qurani, KH. Muhammad Endang Suratno Wibowo, Lc., S.H., M.Ed., menyambut positif langkah kolaboratif tersebut.
Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban sekaligus memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berjarak dengan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
«“Pesantren tidak boleh berjarak dari realitas sosial masyarakat. Kami menyambut dengan tangan terbuka silaturahmi serta sinergi bersama program ‘Lapor Kang Cucu’. Kolaborasi ini merupakan ikhtiar kolektif untuk memperluas kemaslahatan, khususnya dalam membantu anak-anak yang menghadapi hambatan mengakses pendidikan,” ungkap KH. Muhammad Endang Suratno Wibowo.»
Ia menilai, persoalan pendidikan tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui satu institusi. Dibutuhkan keberanian untuk membangun jembatan kolaborasi antara masyarakat, lembaga pendidikan, pesantren, pemerintah, dan berbagai elemen sosial lainnya.
“Semoga ikhtiar mulia ini bernilai ibadah dan mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.
Solidaritas Lintas Elemen Menjadi Kekuatan
Apresiasi terhadap kolaborasi tersebut turut disampaikan Ketua DPD PSI Kabupaten Karawang, M. Ilham Kamil. Ia menilai gerakan “Lapor Kang Cucu” merupakan bentuk kepedulian sosial yang tidak berhenti pada wacana, tetapi berupaya menghadirkan solusi melalui kerja bersama.
«“Apa yang diinisiasi Cucu Hidayat melalui program ‘Lapor Kang Cucu’ bersama Pondok Pesantren Lestari Alam Qurani adalah bentuk kerja nyata yang sangat inspiratif. Persoalan anak putus sekolah maupun hambatan dalam mengakses pendidikan tidak mungkin diselesaikan sendirian. Dibutuhkan sinergi dan kepekaan sosial dari berbagai elemen,” ujarnya.»
Menurut M. Ilham Kamil, masa depan generasi muda Karawang merupakan investasi sosial yang harus dijaga bersama. Karena itu, setiap inisiatif yang membuka ruang bagi anak untuk tetap belajar patut mendapatkan dukungan.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa keberpihakan terhadap masa depan generasi muda dapat diwujudkan melalui solidaritas yang solid dan kerja nyata,” katanya.
Mengawal Hak Anak Secara Proporsional
Di sisi lain, Cucu Hidayat menegaskan bahwa program “Lapor Kang Cucu” tidak ingin melihat persoalan pendidikan secara hitam-putih. Setiap laporan harus dipahami berdasarkan latar belakang, kebutuhan, serta karakteristik kasus yang dihadapi anak.
Menurutnya, kerja sama dengan pesantren maupun PKBM bukanlah pilihan karena suatu persoalan telah menemui jalan buntu. Kolaborasi tersebut justru merupakan bagian dari strategi untuk memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan melalui jalur yang paling sesuai.
“Alhamdulillah, silaturahmi dan ikhtiar sinergi program ‘Lapor Kang Cucu’ disambut sangat luar biasa oleh KH. Muhammad Endang Suratno Wibowo. Perlu digarisbawahi, sinergi dengan pihak luar seperti pondok pesantren maupun PKBM bukan sekadar opsi ketika menghadapi jalan buntu, tetapi merupakan langkah penyesuaian berdasarkan konteks setiap kasus,” tegas Cucu Hidayat.
Ia mencontohkan kasus Ririn Renata, yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan dari jenjang SD ke SMP, namun menghadapi kendala terkait ketentuan penerimaan peserta didik.
Bagi Cucu, persoalan administratif dan teknis semestinya tidak serta-merta menghilangkan harapan seorang anak untuk melanjutkan pendidikan.
“Ririn masih memiliki semangat untuk belajar. Sangat disayangkan apabila anak-anak seperti Ririn justru kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan karena persoalan teknis. Karena itu, kami akan terus mengupayakan langkah konkret agar mereka tetap mendapatkan ruang pendidikan,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Advokasi, Tetapi Membangun Jalan Keluar
Cucu menegaskan, orientasi utama “Lapor Kang Cucu” bukan sekadar menyampaikan keluhan masyarakat, melainkan mengawal persoalan hingga ditemukan jalan keluar yang proporsional dan bertanggung jawab.
Untuk kasus tertentu, jalur pendidikan formal tetap menjadi prioritas. Namun, ketika kondisi objektif sebuah kasus membutuhkan pendekatan lain, pesantren maupun PKBM dapat menjadi mitra strategis dalam memastikan keberlanjutan pendidikan anak.
“Prinsipnya sederhana, setiap kasus harus kita kawal sesuai jalurnya masing-masing. Jangan sampai persoalan administrasi membuat seorang anak kehilangan masa depan. Kita ingin membangun solusi, bukan sekadar memperdebatkan persoalan,” tegasnya.
Menjadikan Pendidikan sebagai Gerakan Bersama
Jalinan sinergi antara “Lapor Kang Cucu” dan Pondok Pesantren Lestari Alam Qurani diharapkan menjadi embrio gerakan sosial yang lebih luas di Kabupaten Karawang.
Kolaborasi tersebut membawa pesan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian masyarakat, dukungan keluarga, keteguhan lembaga pendidikan, serta keberanian berbagai elemen sosial untuk turun tangan ketika menemukan persoalan di lapangan.
Pada akhirnya, gerakan ini hendak menegaskan satu prinsip fundamental: tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena persoalan yang seharusnya masih dapat dicarikan jalan keluarnya.
Dari Karawang, sinergi antara gerakan sosial dan pesantren ini diharapkan menjadi contoh bahwa kepedulian yang dipertemukan dengan kolaborasi dapat melahirkan kekuatan baru—kekuatan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjaga harapan generasi masa depan.


+ There are no comments
Add yours