KARAWANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah hendaknya tidak berhenti sebagai tradisi seremonial tahunan. Momentum kelahiran Rasulullah SAW semestinya menjadi ruang perenungan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan personal, keluarga, kehidupan sosial, hingga praktik kepemimpinan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPD PKS Kabupaten Karawang, Adin Jaelani Sopian, dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Ia mengajak masyarakat menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai energi moral untuk memperbaiki kualitas diri, memperkokoh ketahanan keluarga, mempererat ukhuwah, serta membangun kehidupan bermasyarakat yang berlandaskan keadilan, kepedulian dan kemaslahatan.
Menurut Adin, Rasulullah SAW merupakan figur teladan yang memiliki keteladanan universal. Keagungan pribadi beliau tidak hanya terlihat dalam kapasitas sebagai utusan Allah SWT, tetapi juga dalam cara beliau membangun keluarga, berinteraksi dengan masyarakat, menyelesaikan persoalan, serta menjalankan amanah kepemimpinan.
“Meneladani Rasulullah SAW berarti menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan kita. Dimulai dari memperbaiki diri sebagai pribadi, membangun keluarga yang penuh kasih sayang, hingga memberikan manfaat dan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” ujar Adin.
Keteladanan Dimulai dari Diri Sendiri
Adin menekankan bahwa perubahan sosial yang bermartabat selalu bermula dari kualitas pribadi. Rasulullah SAW telah memberikan teladan mengenai pentingnya kejujuran, amanah, kesabaran, keteguhan iman, kasih sayang serta akhlak mulia.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, justru semakin relevan di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh tantangan. Kemajuan material tanpa diimbangi integritas dan karakter berpotensi kehilangan arah.
“Kita tidak mungkin membangun masyarakat yang baik tanpa membangun pribadi-pribadi yang baik. Rasulullah mengajarkan bahwa kekuatan umat berawal dari kualitas iman dan akhlak setiap individunya,” ungkapnya.
Karena itu, Maulid Nabi perlu ditempatkan sebagai momentum muhasabah. Setiap individu diajak melihat kembali kualitas dirinya, bukan hanya dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga dalam hubungan dengan keluarga, sesama manusia dan lingkungan sosial.
Keluarga, Fondasi Peradaban
Bagi Adin, keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan keluarga merupakan pelajaran penting yang tidak boleh kehilangan relevansinya. Keluarga merupakan institusi sosial pertama tempat seorang anak mengenal kasih sayang, nilai agama, tanggung jawab, etika dan kehidupan bersama.
Kepala keluarga, menurutnya, tidak semata-mata diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi. Lebih dari itu, seorang kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan sekaligus pelindung dan pengayom bagi keluarganya.
“Kepala keluarga bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pemimpin yang memberikan keteladanan, perlindungan, pendidikan dan kasih sayang. Rumah harus menjadi tempat pertama tumbuhnya iman, akhlak dan cinta,” tuturnya.
Ia menilai, keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter generasi. Apa yang dilihat dan dirasakan anak di lingkungan keluarga akan menjadi bagian penting dari proses pembentukan kepribadian mereka.
Dengan demikian, membangun keluarga yang harmonis dan berkarakter pada hakikatnya merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan masyarakat dan bangsa.
Kepemimpinan Harus Berujung pada Kemaslahatan
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Adin menggarisbawahi keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan Rasulullah memperlihatkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menghadirkan keadilan, menjaga persatuan dan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat.
Menurutnya, setiap jabatan publik pada hakikatnya merupakan amanah. Karena itu, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikul.
“Semakin besar amanah yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat. Kepemimpinan Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa kekuasaan harus menjadi jalan untuk melayani, bukan untuk dilayani,” tegas Adin.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting dalam kehidupan publik. Pemimpin dituntut tidak hanya memiliki kapasitas, tetapi juga integritas, keberanian mengambil keputusan yang benar, kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan komitmen untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dari Keteladanan Menuju Pengabdian
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, lanjut Adin, hendaknya menjadi titik tolak untuk menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah SAW ke dalam tindakan nyata.
Kecintaan tersebut tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan, lantunan salawat maupun ungkapan verbal, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari—dalam kejujuran saat bekerja, kesetiaan dalam keluarga, kepedulian terhadap sesama, serta kesungguhan ketika mengemban amanah.
“Mari kita jadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menguatkan keluarga, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan kepemimpinan yang amanah. Semoga kita tidak hanya mencintai Rasulullah SAW dengan lisan, tetapi mampu mengikuti sunnah dan akhlaknya dalam setiap langkah kehidupan,” pungkas Adin.
Pesan tersebut menjadi relevan untuk direnungkan bersama. Sebab, membangun masyarakat yang bermartabat tidak semata-mata membutuhkan kecanggihan sistem dan kemajuan pembangunan, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas, keluarga yang kokoh, serta pemimpin yang memahami jabatan sebagai amanah pengabdian.
Pada akhirnya, Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dapat dimaknai bukan hanya sebagai peringatan atas kelahiran seorang manusia agung, tetapi sebagai undangan moral bagi setiap Muslim untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata.
Meneladani Rasulullah SAW. Menata diri dengan iman. Menguatkan keluarga dengan kasih sayang. Memimpin dengan amanah. Dan mengabdi untuk kemaslahatan umat.


+ There are no comments
Add yours