Bekasi — Upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memilih obat dan makanan yang aman dan bermutu terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI di Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan ini terselenggara melalui sinergi bersama mitra kerja Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Putih Sari, serta dihadiri oleh perwakilan BPOM Pusat, di antaranya Novika Widyaningrum dan Ari Novianti, serta Kepala Desa Segara Makmur, Nurmansyah Tubagyo. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen bersama dalam melindungi masyarakat dari risiko produk obat dan makanan yang tidak memenuhi standar keamanan.

Dalam sambutannya, Putih Sari menyampaikan apresiasi atas materi edukatif yang telah disampaikan oleh BPOM kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa pengetahuan yang telah diperoleh tidak boleh berhenti sebatas pemahaman, melainkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ilmu yang sudah didapat hari ini harus bisa diaplikasikan. Kesehatan bukan sesuatu yang datang begitu saja, tetapi harus diupayakan dengan kesadaran dan kedisiplinan kita sendiri,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang sangat banyak membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga peredaran produk yang aman. Meski BPOM telah menjalankan fungsi pengawasan secara ketat—mulai dari proses produksi hingga distribusi—namun masih ditemukan oknum yang memproduksi maupun mengedarkan produk ilegal.
Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah peredaran jamu dan kosmetik yang mengandung bahan kimia obat berbahaya. Produk-produk tersebut kerap dikemas secara menarik dan dijual bebas, bahkan melalui platform daring, sehingga berpotensi menyesatkan konsumen.
“Selama masih ada yang membeli, maka produk ilegal itu akan terus ada. Ini adalah hukum permintaan. Maka dari itu, masyarakat harus cerdas dan selektif dalam memilih,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dampak dari konsumsi produk yang tidak aman tidak selalu dirasakan secara langsung. Dalam jangka pendek, mungkin hanya menimbulkan reaksi ringan seperti iritasi atau gangguan pencernaan. Namun dalam jangka panjang, zat berbahaya tersebut dapat mengendap dalam tubuh dan memicu penyakit serius seperti kerusakan organ hingga kanker.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berimplikasi pada meningkatnya beban negara dalam pembiayaan kesehatan. Penyakit-penyakit kronis memerlukan penanganan jangka panjang dengan biaya yang tidak sedikit.
Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk menjadi konsumen cerdas dengan menerapkan prinsip Cek KLIK—Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebelum membeli atau mengonsumsi produk.
Putih Sari juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh produk murah, terutama yang berasal dari luar negeri tanpa kejelasan izin edar. Tren belanja online yang semakin meningkat harus diimbangi dengan kewaspadaan ekstra.
“Jangan mudah percaya dengan klaim instan, apalagi yang menjanjikan hasil cepat. Sehat itu proses, bukan hasil dari produk yang belum tentu aman,” imbuhnya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih peduli terhadap keamanan produk yang dikonsumsi, sekaligus menjadi garda terdepan dalam memutus mata rantai peredaran produk ilegal.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengawas, dan masyarakat, terwujudnya lingkungan yang sehat dan aman bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat dicapai bersama.


+ There are no comments
Add yours