Ustadz Abie FU Ingatkan Pentingnya Memahami Batasan Mahram dan Aurat dalam Kehidupan Sehari-Hari

2 min read

Bekasi – Dalam tausiyahnya, Ustadz Abie FU (Al-Jailani Firdaus) menegaskan pentingnya umat Islam untuk benar-benar memahami konsep mahram dan aurat, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dua hal tersebut merupakan pondasi penting dalam menjaga kehormatan diri, sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam penjelasannya, Ustadz Abie FU menyebutkan bahwa mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi karena hubungan darah atau pernikahan, seperti orang tua, anak kandung, saudara, kakek-nenek, hingga mertua. Sedangkan aurat adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dari pandangan orang lain yang bukan mahram.

“Aurat laki-laki adalah antara pusar hingga lutut, sedangkan aurat perempuan menurut jumhur ulama adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup aurat adalah kewajiban, bagian dari menjaga kehormatan dan identitas sebagai seorang muslim,” jelasnya.

Namun, Ustadz Abie FU mengaku prihatin melihat masih banyak penyimpangan dalam praktik keagamaan. Ia menyoroti fenomena para dai atau penceramah yang kerap kali melanggar aturan syariat dengan bersalaman atau bahkan berpelukan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

“Saya jujur sedih ketika melihat acara keagamaan justru diakhiri dengan pelanggaran syariat. Ada yang masih bersalaman dengan ibu-ibu yang jelas bukan mahramnya, bahkan ada yang sampai berpelukan. Padahal Rasulullah SAW sudah sangat tegas melarang hal ini,” ucapnya.

Ia kemudian mengutip hadits Rasulullah SAW:

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR Ar-Ruyani, Ath-Thabrani, & Baihaqi).

Ustadz Abie FU juga mengingatkan hadits lain yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, di mana setiap anggota tubuh manusia bisa terjerumus dalam perbuatan zina, termasuk mata, tangan, kaki, dan mulut. Menurutnya, hal ini harus menjadi peringatan serius bagi umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri.

“Segampang itukah melanggar syariat Allah SWT yang sudah jelas tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits? Seharusnya para pemuka agama justru menjadi teladan, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustadz Abie FU berpesan agar seluruh dai, ustadz, maupun pelaku syiar benar-benar menjaga adab dan kehormatan diri.

“Semoga kita semua mampu menjadi teladan yang baik. Jangan sampai dakwah yang seharusnya menjadi ladang pahala justru berubah menjadi celah kemaksiatan. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga langkah kita di jalan yang diridhai-Nya,” pungkasnya dengan penuh harap.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours