Abah Awaman, S.E., Ketua Umum Paguyuban Sorban: Silaturahmi, Mengaji, dan Berbagi Harus Menjadi Ruh Perjuangan Organisasi dalam Merawat Tradisi Leluhur, Memperkuat Persatuan, dan Melahirkan Kader Cinta Tanah Air
BANDUNG BARAT — Pelantikan Ketua dan jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat menjadi momentum strategis dalam memperkokoh marwah organisasi, merawat warisan luhur kasepuhan Banten, serta meneguhkan komitmen pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam momentum tersebut, Abah Tubagus Uje Sutisna resmi dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPC Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat. Dengan berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), ia menyatakan kesiapan untuk menjalankan tugas organisasi secara bertanggung jawab, menjaga kehormatan paguyuban, serta meneruskan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi perjalanan Paguyuban Sorban.
Pelantikan ini dihadiri Ketua Umum Paguyuban Sorban, Abah Awaman, S.E., bersama jajaran pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan para Ketua DPC. Hadir pula Ketua Paguyuban Sorban Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Barat, Abah Tubagus M. Nasirudin Ali.
Kehadiran para pimpinan tersebut bukan sekadar mencerminkan dukungan struktural terhadap kepengurusan baru, melainkan juga menegaskan pentingnya kesinambungan kepemimpinan, kesatuan visi, dan penguatan nilai-nilai organisasi hingga ke tingkat daerah.
Lebih dari seremoni kelembagaan, pelantikan ini menjadi peneguhan bahwa Paguyuban Sorban harus terus bertumbuh sebagai wadah persaudaraan yang berakar pada tradisi, berlandaskan nilai spiritualitas, serta terbuka terhadap kemajuan tanpa kehilangan jati diri.
Abah Tubagus Uje Sutisna: Amanah Kepemimpinan, Pengabdian, dan Kehormatan Organisasi
Terpilihnya Abah Tubagus Uje Sutisna sebagai Ketua DPC Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat membawa harapan baru bagi penguatan konsolidasi organisasi dan perluasan kontribusi sosial di tengah masyarakat.
Amanah tersebut mengandung tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menjalankan fungsi kepemimpinan. Di dalamnya terdapat kewajiban moral untuk menjaga keharmonisan keluarga besar paguyuban, memperkuat persaudaraan, menghidupkan program organisasi, serta memastikan nilai-nilai luhur yang diwariskan para kasepuhan tetap terpelihara.
Kesiapan menjalankan tugas sesuai AD/ART menjadi landasan penting bagi terbentuknya kepengurusan yang tertib, solid, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Dalam perspektif organisasi yang berkarakter, kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari kedudukan, melainkan dari keteladanan, kemampuan merangkul seluruh elemen, dan kesungguhan dalam merealisasikan amanah menjadi kerja nyata.
Karena itu, DPC Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang merangkul, membangun komunikasi lintas generasi, serta menjadikan organisasi sebagai ruang tumbuhnya kebijaksanaan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian.
Dengan fondasi tersebut, kepengurusan baru diharapkan tidak hanya memperkuat eksistensi organisasi, tetapi juga meningkatkan kualitas manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Abah Awaman, S.E.: Menjaga Ruh Paguyuban, Menghidupkan Warisan Kasepuhan Banten
Dalam arahannya, Ketua Umum Paguyuban Sorban, Abah Awaman, S.E., menegaskan pentingnya menjaga ruh organisasi sebagaimana amanah para kasepuhan Banten. Menurutnya, identitas Paguyuban Sorban harus senantiasa berpijak pada tiga nilai utama: silaturahmi, mengaji, dan berbagi.
Ketiganya merupakan fondasi yang menyatukan hubungan antarmanusia, penguatan spiritualitas, dan kepedulian sosial dalam satu kesatuan pengabdian.
Silaturahmi menjadi jalan untuk merawat persaudaraan, mempererat hubungan antarkeluarga besar paguyuban, serta membangun harmoni di tengah keberagaman masyarakat.
Mengaji merupakan ikhtiar untuk terus memperdalam ilmu, memperkuat pemahaman keagamaan, membentuk akhlak, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, berbagi menjadi manifestasi kepedulian yang mengubah nilai-nilai kebaikan menjadi tindakan nyata. Semangat tersebut mengajarkan bahwa keberadaan organisasi akan semakin bermakna ketika kehadirannya mampu membantu sesama dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Bagi Abah Awaman, ketiga nilai tersebut harus menjadi pedoman dalam setiap langkah organisasi, bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dalam kegiatan seremonial.
Ia juga menekankan bahwa seluruh gerak Paguyuban Sorban harus senantiasa berada dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, sebagai komitmen untuk merawat persatuan, menghormati keberagaman, dan memperkuat kehidupan kebangsaan.
Pesan tersebut mengandung makna bahwa menjaga warisan kasepuhan bukanlah upaya membatasi diri pada romantisme masa lalu. Sebaliknya, tradisi harus menjadi sumber nilai yang membimbing masyarakat menghadapi perubahan zaman dengan karakter, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Paguyuban Sorban diharapkan mampu merawat akar tradisi sekaligus merespons modernisasi secara cerdas dan bermartabat. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan perkembangan pemikiran harus disikapi sebagai tantangan sekaligus kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam konteks itu, regenerasi menjadi agenda penting. Paguyuban Sorban diharapkan mampu mencetak kader-kader yang memahami nilai-nilai luhur leluhur, memiliki keluasan wawasan, menjunjung tinggi akhlak, menghargai keberagaman, dan menempatkan kecintaan terhadap Tanah Air sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
Kader Sorban harus mampu menjadi penjaga tradisi sekaligus pelaku perubahan; berakar kuat pada kearifan leluhur, tetapi tetap terbuka terhadap kemajuan; teguh dalam nilai, serta hadir membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
## Abah Tubagus M. Nasirudin Ali: Perkuat Sinergi, Bangun Organisasi yang Tertib dan Kredibel
Sementara itu, Ketua Paguyuban Sorban DPD Jawa Barat, Abah Tubagus M. Nasirudin Ali, menekankan pentingnya membangun sinergi dengan seluruh lapisan masyarakat serta memperkuat komunikasi dan hubungan kelembagaan dengan berbagai unsur pemerintahan.
Menurutnya, organisasi yang memiliki akar tradisi dan semangat kekeluargaan harus mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam pola kerja yang konstruktif, terbuka, dan bermanfaat bagi lingkungan sosial.
Sinergi bukan sekadar membangun hubungan formal, melainkan menciptakan ruang kolaborasi yang memungkinkan organisasi berkontribusi dalam menjaga keharmonisan masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, melestarikan kebudayaan, dan mendukung pembangunan daerah.
Paguyuban Sorban di tingkat cabang diharapkan mampu menjadi mitra yang positif bagi masyarakat, menjaga komunikasi dengan berbagai elemen, serta mengedepankan persatuan dalam menyikapi dinamika sosial.
Di samping penguatan sinergi, Abah Tubagus M. Nasirudin Ali juga mengingatkan pentingnya segera menindaklanjuti pelaporan organisasi kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), dengan melengkapi dokumen legalitas serta memenuhi persyaratan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola organisasi yang tertib, profesional, dan bertanggung jawab.
Legalitas dan administrasi yang tertata akan membantu memperjelas identitas kelembagaan, mendukung kelancaran koordinasi, serta memperkuat hubungan organisasi dengan pemerintah daerah.
Dengan demikian, nilai-nilai tradisi dan spiritualitas yang menjadi fondasi Paguyuban Sorban dapat berjalan beriringan dengan tata kelola kelembagaan yang baik.
Organisasi yang kuat, pada akhirnya, bukan hanya organisasi yang memiliki sejarah dan identitas, tetapi juga organisasi yang mampu menjaga amanah, menaati ketentuan, membangun kepercayaan, dan menunjukkan kontribusi nyata.
Tradisi Leluhur dan Modernisasi: Dua Kekuatan untuk Menyiapkan Masa Depan
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keberadaan Paguyuban Sorban memiliki ruang strategis dalam menjaga kesinambungan nilai budaya, memperkuat karakter generasi muda, serta merawat hubungan sosial yang berlandaskan persaudaraan.
Namun, kelestarian tradisi membutuhkan proses pewarisan yang berkelanjutan. Nilai-nilai luhur harus diperkenalkan, dipahami, dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya melalui keteladanan, pendidikan, kegiatan sosial, serta ruang dialog yang sehat antara generasi tua dan generasi muda.
Modernisasi tidak harus menjadi ancaman bagi tradisi. Dengan sikap terbuka dan bijaksana, perkembangan zaman justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan silaturahmi, meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat pendidikan kader, serta memperkenalkan kearifan leluhur kepada masyarakat yang lebih luas.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang memiliki visi jangka panjang: menjaga identitas tanpa menutup diri, merawat warisan tanpa menolak pembaruan, dan membangun kemajuan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral.
Paguyuban Sorban diharapkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan kearifan masa lalu dengan kebutuhan masa kini, sehingga tradisi tidak hanya dikenang sebagai warisan, tetapi juga dihidupkan sebagai pedoman untuk membangun masa depan.
Meneguhkan Marwah Organisasi dalam Bingkai Persatuan Indonesia
Pelantikan Ketua dan Pengurus DPC Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat menjadi momentum untuk memperkuat tekad bersama dalam menjaga kehormatan organisasi, menjalankan amanah kepemimpinan, dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Abah Tubagus Uje Sutisna, harapan terhadap DPC Paguyuban Sorban Kabupaten Bandung Barat bertumpu pada kesungguhan seluruh jajaran untuk membangun konsolidasi yang solid, menjalankan program yang relevan, serta menjaga keselarasan dengan visi dan nilai organisasi.
Arahan Ketua Umum Abah Awaman, S.E., memberikan penegasan tentang pentingnya merawat ruh paguyuban melalui silaturahmi, mengaji, dan berbagi. Sementara itu, pesan Abah Tubagus M. Nasirudin Ali mengingatkan bahwa kekuatan nilai harus disertai sinergi, ketertiban administrasi, dan tanggung jawab kelembagaan.
Keduanya menjadi pijakan penting bagi kepengurusan baru untuk menumbuhkan organisasi yang tidak hanya kokoh secara struktural, tetapi juga kuat secara moral dan bermanfaat secara sosial.
Pada akhirnya, kehormatan sebuah paguyuban tidak hanya ditentukan oleh nama besar, sejarah, atau kedudukan para pengurusnya. Marwah organisasi tumbuh melalui konsistensi dalam menjaga nilai, ketulusan dalam mengabdi, keteladanan dalam bertindak, dan kesanggupan merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
Paguyuban Sorban harus terus menjadi rumah persaudaraan, ruang pembelajaran, dan wadah pengabdian yang menjaga warisan kasepuhan Banten sekaligus memperkuat persatuan Indonesia.
Dengan menjadikan silaturahmi sebagai pengikat persaudaraan, mengaji sebagai jalan memperkuat ilmu dan akhlak, serta berbagi sebagai wujud kepedulian, Paguyuban Sorban diharapkan mampu melahirkan generasi yang berkarakter, berwawasan luas, mencintai tradisi, adaptif terhadap modernisasi, dan senantiasa menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika serta Pancasila.
Sebab, warisan leluhur yang paling berharga bukan hanya tradisi yang berhasil dipertahankan, melainkan nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam tindakan, menginspirasi generasi, dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara.




Komentar