KARAWANG — Besarnya dorongan dan dukungan berbagai elemen masyarakat terhadap H. Oma Miharja Rizki, S.H., M.H., untuk maju sebagai calon Bupati Karawang pada Pilkada 2029 ternyata tidak mengubah sikap politikus Partai Demokrat tersebut.
Di tengah semakin kuatnya aspirasi yang mendorong namanya menuju kursi Karawang satu, H. Oma justru memilih tetap menjaga kesederhanaan sikap. Ia tidak larut dalam euforia dukungan, apalagi menjadikan dorongan tersebut sebagai alasan untuk mengurangi fokusnya dalam menjalankan amanah sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Karawang.
Bagi H. Oma, jabatan politik bukanlah tujuan akhir. Jabatan merupakan instrumen untuk memperluas ruang pengabdian dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, amanah yang saat ini dipercayakan kepadanya sebagai wakil rakyat menjadi prioritas yang ingin dijalankan secara sungguh-sungguh.
Sikap tersebut menjadi semakin menarik karena dukungan terhadap dirinya datang dari berbagai lapisan. Bukan hanya dari masyarakat, aspirasi agar H. Oma maju dalam kontestasi Pilkada Karawang juga terdengar dari sejumlah koleganya di DPRD Kabupaten Karawang, baik dari internal Partai Demokrat maupun dari lintas partai politik.
Dukungan serupa juga datang dari figur yang memiliki rekam jejak kuat dalam politik Karawang, yakni Dr. Hj. Cellica Nurachadiana, M.Kes., yang pernah menjabat sebagai Bupati Karawang selama dua periode dan kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal BAPILU DPP Partai Demokrat.
Tidak berhenti sampai di sana, kelompok pendukung yang dipimpin H. Zaenudin bahkan telah menyuarakan aspirasi melalui petisi yang mendorong H. Oma Miharja Rizki untuk maju pada Pilkada 2029. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa nama H. Oma mulai memperoleh perhatian sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman untuk memimpin Karawang.
Namun, seluruh dukungan tersebut tidak serta-merta membuat H. Oma mengambil langkah politik secara terburu-buru. Ia memilih merespons aspirasi tersebut dengan tenang, santun, dan penuh pertimbangan.
Menurutnya, Pilkada 2029 masih memiliki rentang waktu yang panjang. Masih banyak persoalan masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kerja nyata. Karena itu, energi politiknya saat ini lebih baik diarahkan untuk menjalankan tugas dan fungsi sebagai wakil rakyat.
“Pilkada kan masih lama. Untuk saat ini saya akan tetap fokus melayani masyarakat sebagai anggota DPRD Kabupaten Karawang. Karena sebagai politisi, bagi saya mengabdi kepada rakyat adalah hal yang paling utama,” ujar H. Oma.
Ia menegaskan, kedudukan politik tidak seharusnya menjadi orientasi utama seorang politisi. Menurutnya, jabatan hanyalah sarana untuk menjalankan amanah dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Jabatan itu hanya alat saja. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memberikan manfaat dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Kalau kemudian Allah Ta’ala berkata lain, ya apa boleh buat. Tetapi untuk saat ini, saya hanya fokus mengabdikan diri untuk masyarakat sebagai wakil rakyat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan karakter politik H. Oma yang cenderung tidak ambisius. Ketika sebagian politisi mungkin menjadikan dukungan sebagai momentum untuk membangun pencitraan atau mempercepat langkah menuju kekuasaan, H. Oma justru memilih menempatkan pelayanan publik sebagai pusat pengabdiannya.
Sikap itu menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan publik. Sebab, kepemimpinan tidak semata-mata lahir dari ambisi untuk menduduki jabatan, tetapi juga dari konsistensi dalam menjalankan amanah, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan mendengarkan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Dalam perspektif tersebut, derasnya dukungan kepada H. Oma Miharja Rizki justru dapat dipandang sebagai sebuah aspirasi yang tumbuh secara organik di tengah masyarakat dan lingkungan politik. Namun, aspirasi tersebut tetap membutuhkan proses, dialog, serta pertimbangan matang sesuai dinamika politik dan kebutuhan pembangunan Karawang ke depan.
H. Oma sendiri tampaknya memilih menikmati proses tersebut secara proporsional. Ia tidak menutup pintu terhadap aspirasi masyarakat, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai alasan untuk mengejar jabatan secara tergesa-gesa.
Sikap bersahaja itu sekaligus memperlihatkan pesan penting bahwa politik pada hakikatnya bukan sekadar tentang siapa yang memperoleh jabatan, melainkan tentang siapa yang mampu menggunakan kewenangan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Karawang, dinamika tersebut tentu menjadi bagian menarik dari perjalanan politik menuju 2029. Nama H. Oma Miharja Rizki boleh saja semakin kuat disebut sebagai salah satu figur potensial, tetapi untuk saat ini ia memilih tetap berada di jalur pengabdian: bekerja, mendengar aspirasi masyarakat, memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak selalu perlu menyatakan dirinya siap menjadi pemimpin. Terkadang, justru konsistensi dalam bekerja dan ketulusan dalam mengabdi yang membuat masyarakat memberikan kepercayaan.
Dan di tengah derasnya dorongan agar dirinya maju menuju Karawang satu, H. Oma Miharja Rizki memilih tetap berjalan dengan langkah yang sederhana: tidak mengejar jabatan, tetapi terus mengejar manfaat bagi masyarakat.


+ There are no comments
Add yours