KUNTILI, SUMBIUH — Di bawah sapa mentari pagi yang merekah perlahan, Lapangan Bimasakti Desa Kuntili, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, berubah menjadi panggung syiar kebangsaan. Ratusan jiwa tumpah ruah dalam balutan semangat yang tak terbendung, memperingati detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dengan tata upacara yang agung dan penuh khidmat.
Lebih dari 500 peserta hadir memadati area upacara. Mereka bukan sekadar hadirin, melainkan representasi dari setiap sudut desa—perwakilan RT dan RW, aparatur pemerintahan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sumpiuh, unsur TNI dan Polri, para pelajar yang menjadi tunas bangsa, hingga ormas dan tim Paskibra desa yang dengan gagah bertugas mengerek Sang Saka Merah Putih menjulang di angkasa. Inspektur upacara, Kepala Desa Kuntili Bapak Salamun, tampak khusuk memimpin jalannya pengibaran bendera pusaka.
Formasi petugas upacara pun tersusun rapi dalam harmoni protokoler:
· Komandan Upacara: Sarbini Joko Santosa
· Pembawa Acara: Nuryati
· Pembaca Teks Pancasila: Salamun
· Pembaca Teks UUD 1945: Erwin Rustiantomo
· Pembaca Teks Proklamasi: Salamun
Di tengah derap langkah petugas dan heningnya penghormatan pada bendera, Kades Salamun menyampaikan amanatnya dengan nada penuh penekanan. Baginya, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan cermin untuk merekatkan kembali jalinan kebersamaan antara pemerintah desa dan seluruh warganya.
“Mari kita jadikan semangat Proklamasi sebagai lentera yang menerangi setiap langkah kita. Bahwa persatuan adalah fondasi, kebersamaan adalah kunci, dan kerja sama adalah napas bagi terciptanya Desa Kuntili yang aman, nyaman, dan kondusif,” tutur Salamun dengan mata berbinar, disambut angguk khidmat para hadirin.
Di sisi lain, Suratno—Ketua RT 6 RW 01—dengan nada haru mengungkapkan kebanggaannya kepada awak media. Ia menyaksikan sendiri bagaimana warganya berbondong-bondong meninggalkan kesibukan demi memenuhi panggilan jiwa kemerdekaan.
“Saya sungguh terenyuh. Antusiasme warga di Gadog begitu membara. Mereka bahkan telah membentuk panitia kecil untuk menggelar aneka lomba sebagai wujud syukur ke hadirat Allah SWT. Kami sadar, perjuangan para pendahulu kita adalah lautan pengorbanan yang tak terbalas. Maka, sudah menjadi kewajiban kami—generasi penerus—untuk terus berkarya, belajar tanpa lelah, dan memberikan kontribusi yang nyata bagi negeri tercinta ini,” ucap Suratno dengan suara bergetar penuh keyakinan.
Suasana upacara berjalan dalam tatanan yang tertib dan lancar. Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan dalam hening, merangkai harapan agar api kemerdekaan tak pernah padam di bumi Kuntili. Seusai doa, senyum dan saling sapa merekah di antara para peserta—sebuah pertanda bahwa semangat kebersamaan telah kembali terpupuk, dan Desa Kuntili siap melangkah dalam terang kemerdekaan yang abadi.


+ There are no comments
Add yours