Yogyakarta — Sosok Airlangga Hartarto, alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1981, menjadi pusat perhatian dalam gelaran Reuni 45 Tahun Alumni Teknik Mesin UGM yang berlangsung di Gedung Departemen Teknik Mesin dan Industri UGM. Kehadiran Airlangga tidak hanya merepresentasikan ikatan emosional alumni, tetapi juga menghadirkan inspirasi kuat tentang peran strategis insinyur dalam menjawab tantangan bangsa dan dinamika global.
Reuni tersebut menjadi momentum reflektif sekaligus visioner, di mana Airlangga bersama rekan-rekan seangkatannya kembali berkumpul, berbagi gagasan, serta mendiskusikan berbagai isu strategis, mulai dari perkembangan riset dan teknologi, transformasi industri, hingga arah kebijakan ekonomi nasional dan global yang kian kompetitif.

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka, Airlangga menegaskan bahwa latar belakang keinsinyuran Teknik Mesin telah membentuk cara berpikir sistematis, solutif, dan berorientasi pada hasil—nilai-nilai yang relevan tidak hanya di dunia teknik, tetapi juga dalam kepemimpinan dan pengambilan kebijakan publik.
Di hadapan adik-adik mahasiswa Teknik Mesin UGM yang turut hadir, Airlangga menitipkan pesan penuh makna agar generasi muda terus berikhtiar, memperkuat kompetensi, serta berani mengambil peran dalam pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus selalu diiringi dengan integritas, etos kerja, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.
“Insinyur memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi nyata bagi bangsa, bukan sekadar inovasi di atas kertas,” menjadi pesan kuat yang menggema dalam pertemuan lintas generasi tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Airlangga juga menyempatkan diri berdialog dengan Tim Bima Sakti Moto Racing UGM, tim mahasiswa yang dikenal konsisten menorehkan prestasi melalui inovasi teknologi dan riset aplikatif. Menurutnya, keberadaan tim tersebut merupakan bukti konkret bahwa semangat keinsinyuran, kreativitas, dan daya saing global di lingkungan Teknik Mesin UGM terus terjaga dan berkembang.
Kiprah Tim Bima Sakti dinilai sejalan dengan semangat yang diwariskan para alumni senior: kerja tim yang solid, keberanian berinovasi, serta kesiapan bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa regenerasi insinyur Teknik Mesin UGM berjalan dengan baik dan siap menjawab tantangan masa depan.
Reuni 45 tahun ini pun bukan sekadar nostalgia, melainkan peneguhan nilai dan solidaritas alumni, dengan Airlangga Hartarto menjadi simbol keberhasilan alumnus Teknik Mesin UGM yang mampu mengabdikan keilmuannya bagi bangsa dan negara.
Teknik Mesin UGM bukan hanya tentang mesin dan teknologi, tetapi tentang karakter, tanggung jawab, dan pengabdian.
Teknik Mesin — Solidarity Forever.
