KARAWANG — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali menghidupkan nilai kemanusiaan, solidaritas, gotong royong dan semangat perjuangan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut, bagi Setiawan Adriel, Ketua Tanggap Bencana DPD PSI Kabupaten Karawang, bukan hanya bagian dari prinsip kebangsaan, tetapi juga harus hadir melalui tindakan nyata, terutama ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Menurut Setiawan, makna Pancasila akan terasa ketika nilai kemanusiaan dan kepedulian diwujudkan tanpa melihat latar belakang seseorang. Dalam situasi bencana maupun kondisi sosial lainnya, kepedulian harus hadir lebih dahulu daripada sekat perbedaan.
“Bagi saya, mengamalkan Pancasila adalah ketika kita mau hadir untuk orang lain. Ketika ada masyarakat yang sedang kesulitan, jangan terlalu banyak bertanya siapa dia, dari mana asalnya atau apa latar belakangnya. Kalau kita mampu membantu, mari kita bantu dengan ikhlas,” ujar Setiawan.
Ia menilai semangat Pangkal Perjuangan yang melekat pada Kabupaten Karawang juga dapat dimaknai sebagai semangat untuk terus berjuang memberikan manfaat. Perjuangan generasi saat ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kepedulian, pengabdian, keberanian menghadapi kesulitan, serta kesediaan memberikan waktu dan tenaga untuk sesama.
“Perjuangan hari ini adalah bagaimana kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Kadang yang dibutuhkan masyarakat bukan sesuatu yang besar. Kehadiran, tenaga, perhatian, air bersih, makanan, atau sekadar membantu seseorang melewati masa sulit, itu juga bagian dari perjuangan,” katanya.
Setiawan menekankan bahwa solidaritas sosial tidak boleh hanya muncul ketika terjadi bencana besar. Kepedulian harus menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, tetangga, komunitas hingga kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, budaya gotong royong merupakan kekuatan sosial yang telah lama menjadi bagian dari karakter masyarakat Indonesia. Di tengah kehidupan yang semakin modern dan individualistis, nilai tersebut justru harus terus dirawat agar masyarakat tidak kehilangan rasa kebersamaan.
“Jangan menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk mengabdi. Kadang yang kita punya hanya tenaga, waktu dan keikhlasan. Kalau itu diberikan untuk membantu orang lain, nilainya sangat besar,” ungkap Setiawan.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak takut terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, pengalaman turun langsung ke tengah masyarakat akan membentuk kepedulian, keberanian, rasa tanggung jawab dan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi sesama.
Bagi Setiawan, pengabdian bukan tentang seberapa besar seseorang terlihat, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menjadi bagian dari solusi, khususnya ketika menghadapi bencana, persoalan sosial maupun kondisi darurat lainnya.
“Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026. Mari kita jadikan Pancasila bukan hanya sebagai kata-kata, tetapi sebagai tindakan. Rawat persatuan, kuatkan solidaritas, hidupkan gotong royong dan jangan pernah lelah membantu sesama. Karena perjuangan yang dilakukan dengan keikhlasan untuk kemanusiaan tidak pernah sia-sia,” pungkas Setiawan Adriel.


Komentar