BEKASI — Prestasi Muhammad Rosi Aquilani yang kini menapaki panggung sepak bola usia muda di level nasional menjadi bagian dari cerita panjang SMPN 1 Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, dalam membangun tradisi pembinaan siswa berprestasi.
Bagi sekolah, perjalanan Rosi bukan sekadar tentang keberhasilan seorang siswa menembus kompetisi sepak bola yang lebih tinggi. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi gambaran bagaimana lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat tumbuhnya potensi, sekaligus ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik.
Hal tersebut disampaikan Ary Ismail, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), mentor, sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Futsal dan Sepak Bola SMPN 1 Cikarang Selatan, saat mengulas perjalanan Rosi, Rabu (30/9/2026).
Menurut Ary, Rosi telah menunjukkan bakat sepak bola sejak usia dini. Ketika memasuki SMPN 1 Cikarang Selatan, kemampuan tersebut kemudian mendapatkan ruang untuk berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler, kompetisi, serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Kalau melihat Rosi, sebenarnya prosesnya sudah dimulai sejak usia grassroot. Ketika masuk SMPN 1 Cikarang Selatan, dia sudah membawa pengalaman dan prestasi dari usia dini,” ungkap Ary.
Rosi juga aktif menimba ilmu sepak bola melalui salah satu sekolah sepak bola (SSB) di Bekasi. Pengalaman tersebut membuat jam terbangnya semakin bertambah, baik dalam latihan maupun pertandingan.
Hingga akhirnya, kesempatan mengikuti seleksi Garudayaksa menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan Rosi.
“Rosi menimba ilmu di SSB dan mendapatkan banyak pengalaman pertandingan. Ketika ada kesempatan mengikuti seleksi Garudayaksa yang bermarkas di Kabupaten Bekasi, dia mengikuti proses tersebut dan akhirnya bisa lolos,” jelas Ary.
Kini, Rosi mendapatkan kesempatan untuk berkembang di level yang lebih tinggi melalui EPA U-16 Garudayaksa, sebuah capaian yang sekaligus menjadi kebanggaan bagi lingkungan sekolah.
Namun, menurut Ary, keberhasilan Rosi tidak dapat dilepaskan dari ekosistem pembinaan yang selama ini dibangun SMPN 1 Cikarang Selatan.
Tradisi Prestasi yang Terus Dibangun
SMPN 1 Cikarang Selatan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan konsistensinya dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berprestasi melalui berbagai bidang.
Tidak hanya sepak bola, sekolah juga mengembangkan kegiatan olahraga, seni, bahasa, kepramukaan, Paskibra dan berbagai kegiatan lainnya.
Ary menyebut terdapat sekitar 14 ekstrakurikuler yang menjadi wadah bagi siswa untuk menemukan sekaligus mengembangkan potensi masing-masing.
“Kami memiliki sekitar 14 ekstrakurikuler. Ada olahraga, seni, bahasa, Pramuka, Paskibra dan lainnya. Dari sana kami menggali potensi siswa. Latihan bisa tiga sampai empat kali dalam seminggu, tergantung bidangnya,” ujar Ary.
Khusus bidang olahraga, sekolah bahkan memberikan pembinaan tambahan kepada siswa yang memiliki kemampuan dan prestasi lebih menonjol.
Pembinaan tersebut dilakukan melalui kelompok yang disebut tim elite, yakni siswa-siswa yang dipersiapkan secara lebih intensif untuk mengikuti berbagai kompetisi.
“Untuk olahraga, kami memiliki pelatihan khusus bagi anak-anak yang sudah berprestasi atau secara kemampuan bermain berada pada level yang lebih baik. Mereka mendapatkan latihan tambahan agar ketika mengikuti kompetisi bisa memberikan hasil maksimal,” katanya.
Menariknya, pembinaan tersebut tetap dirancang agar tidak mengganggu proses pembelajaran.
Latihan dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai, umumnya mulai pukul 15.00 hingga sekitar pukul 17.00 atau 17.30.
Dengan demikian, sekolah berupaya membangun prinsip bahwa prestasi dan pendidikan bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dua aspek yang harus berjalan beriringan.
Jejak Prestasi di Tingkat Kabupaten hingga Jawa Barat
Tradisi tersebut telah menghasilkan sejumlah capaian yang membanggakan.
Dalam dua tahun terakhir, SMPN 1 Cikarang Selatan berhasil meraih juara pertama Gala Siswa tingkat Kabupaten Bekasi dan kemudian menjadi wakil Kabupaten Bekasi untuk berkompetisi di tingkat provinsi.
Sekolah juga berhasil meraih juara kedua Liga Pelajar.
Sementara di sektor olahraga putri, tim futsal SMPN 1 Cikarang Selatan berhasil meraih juara pertama Proton Super Cup dan kemudian mewakili Kabupaten Bekasi di tingkat Jawa Barat.
Prestasi tersebut tidak berhenti pada keberhasilan tim sekolah.
Salah satu pemain putri binaan SMPN 1 Cikarang Selatan bahkan kini masuk dalam tim sepak bola putri Kabupaten Bekasi untuk ajang Porda.
“Untuk putri, tahun lalu kami juara satu Proton Super Cup dan kemudian mewakili Kabupaten Bekasi ke tingkat Jawa Barat. Salah satu pemain kita juga saat ini masuk tim Porda Kabupaten Bekasi untuk sepak bola putri,” ungkap Ary.
Di sektor putra, siswa-siswa SMPN 1 Cikarang Selatan juga telah mengikuti berbagai kompetisi di dalam maupun luar daerah. Bahkan, terdapat siswa yang mendapatkan kesempatan mengikuti kompetisi internasional bersama klub atau timnya.
Dari Almamater Lahir Atlet hingga Pelatih
Rekam jejak SMPN 1 Cikarang Selatan ternyata tidak hanya terlihat dari prestasi siswa yang masih aktif belajar.
Sejumlah alumni juga berhasil melanjutkan perjalanan mereka di dunia sepak bola.
Ary mengungkapkan bahwa beberapa tahun sebelumnya terdapat alumni sekolah yang berhasil masuk Timnas Pelajar U-14 dan mendapatkan kesempatan mengikuti Gothia Cup di Swedia.
Ada pula alumni yang kemudian melanjutkan karier di kompetisi sepak bola nasional, termasuk di Liga 2 dan Liga 3.
Namun, perjalanan alumni tidak berhenti sebagai pemain.
Sebagian di antaranya kemudian berkembang menjadi pelatih dan terlibat dalam pembinaan sepak bola di Kabupaten Bekasi.
“Beberapa alumni kami sekarang ada yang menjadi pelatih di Kabupaten Bekasi. Bahkan ada yang menjadi pelatih fisik sepak bola putri dengan lisensi kepelatihan,” kata Ary.
Bagi Ary, perjalanan tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan olahraga di sekolah memiliki dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar memenangkan sebuah pertandingan.
Sekolah sebagai Ruang Tumbuh
Menurut Ary, setiap anak memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda. Karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang yang cukup agar setiap siswa dapat menemukan bidang yang sesuai dengan kemampuannya.
“Anak-anak itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Ada yang kuat di akademik, ada yang memiliki kemampuan di bidang nonakademik. Jadi sekolah harus memberikan ruang untuk semuanya berkembang,” tuturnya.
Dalam konteks siswa seperti Rosi, dukungan sekolah juga harus disertai koordinasi yang baik dengan keluarga dan pihak pembina.
Ketika seorang siswa memperoleh kesempatan mengikuti seleksi, kompetisi atau pembinaan di luar sekolah, pihak sekolah dapat mencari pola belajar yang memungkinkan siswa tetap mengikuti pendidikan secara optimal.
“Yang penting komunikasi dengan pihak sekolah dan ada surat secara resmi. Kemudian kita mencari solusi bagaimana pola belajarnya. Jangan sampai karena mengejar prestasi, akademiknya tertinggal. Keduanya harus berjalan bersama,” tegas Ary.
Rosi Menjadi Bagian dari Cerita Besar SMPN 1 Cikarang Selatan
Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan Rosi menembus level kompetitif sepak bola usia muda menjadi bagian dari mata rantai prestasi SMPN 1 Cikarang Selatan.
Rosi datang dengan bakat yang telah dibentuk sejak usia dini. Sekolah kemudian menjadi salah satu ruang tempat bakat tersebut berkembang melalui latihan, kompetisi dan lingkungan pendidikan.
Kini, ketika langkahnya bergerak menuju panggung yang lebih besar, nama SMPN 1 Cikarang Selatan pun ikut menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Bagi Ary Ismail, inilah esensi pembinaan di sekolah.
Sekolah tidak hanya bertugas menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal di ruang kelas, tetapi juga membantu setiap anak menemukan potensi terbaik yang dimilikinya.
“Harapan kami tentu anak-anak bisa terus berkembang. Kalau mereka ingin menjadi atlet, mereka sudah memiliki jalur melalui prestasi yang diraih sejak SMP. Kalau nantinya memilih bidang lain, pengalaman selama proses pembinaan juga menjadi bekal bagi mereka,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan alumni juga menjadi bagian dari keberhasilan almamater.
“Ketika mereka memiliki karier dan prestasi yang baik di luar sana, nama SMPN 1 Cikarang Selatan juga akan ikut terangkat dengan sendirinya,” kata Ary.
Dari Cikarang Selatan untuk Masa Depan
Perjalanan Muhammad Rosi Aquilani pada akhirnya menjadi satu keping dari mozaik besar prestasi SMPN 1 Cikarang Selatan.
Dari Gala Siswa tingkat Kabupaten Bekasi, Liga Pelajar, prestasi futsal putri, pemain yang masuk tim Porda, alumni yang pernah memperkuat Timnas Pelajar dan berkompetisi di luar negeri, hingga alumni yang meniti karier sebagai pemain maupun pelatih—semuanya menunjukkan satu hal: potensi siswa dapat tumbuh ketika sekolah memberikan ruang, pembinaan dan kesempatan yang tepat.
Dan kini, nama Rosi kembali menambah cerita tersebut.
Dari lapangan sekolah di Cikarang Selatan, ia melangkah menuju panggung sepak bola yang lebih luas.
Perjalanannya masih panjang. Namun, di setiap langkahnya terdapat jejak sebuah almamater yang sejak awal berupaya menjaga satu prinsip sederhana:
setiap anak memiliki potensi untuk berprestasi, dan tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan jalan terbaik untuk mewujudkannya.
“Prestasi anak-anak ini bukan hanya untuk mereka sendiri. Ini juga menjadi kebanggaan bagi keluarga, sekolah, Kabupaten Bekasi, dan mudah-mudahan ke depan bisa membawa nama Indonesia,” pungkas Ary Ismail.


Komentar