JAKARTA — Ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Target tersebut menuntut keberanian mengambil keputusan strategis, kualitas investasi yang lebih tinggi, kepastian berusaha, serta orkestrasi kekuatan negara dan dunia usaha dalam satu arah pembangunan nasional.
Pesan strategis tersebut mengemuka dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ketua MPR RI ke-15 sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai forum tersebut memiliki arti penting sebagai ruang konsolidasi antara pemerintah, BUMN, Danantara, investor dan sektor swasta untuk merumuskan langkah konkret menghadapi perubahan lanskap ekonomi global.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, perlambatan ekonomi global dan disrupsi teknologi, Indonesia dinilai tidak cukup hanya mempertahankan pola pertumbuhan yang selama ini berjalan.
Diperlukan lompatan produktivitas dan investasi agar perekonomian nasional mampu bergerak menuju level pertumbuhan yang lebih tinggi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
«“Target pertumbuhan ekonomi 8 persen harus kita tempatkan sebagai agenda percepatan nasional. Kita tidak bisa mencapainya dengan cara-cara yang sama ketika ekonomi tumbuh 5 persen. Dibutuhkan keberanian memperbesar investasi produktif, mempercepat hilirisasi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat kolaborasi pemerintah, BUMN, Danantara dan sektor swasta,” ujar Bamsoet.»
Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti sebagai statistik makro. Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, kenaikan pendapatan masyarakat dan penguatan daya saing industri nasional.
“Pertumbuhan ekonomi harus terasa sampai ke masyarakat dalam bentuk pekerjaan, pendapatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Momentum Investasi Harus Diubah Menjadi Kekuatan Ekonomi
Bamsoet melihat perkembangan investasi nasional sebagai modal penting untuk mempercepat transformasi ekonomi.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia dan telah mencapai 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Pada triwulan II-2026, realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 742 ribu orang.
Namun, bagi Bamsoet, besarnya nilai investasi hanyalah satu sisi dari keberhasilan pembangunan.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan modal yang masuk mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat struktur ekonomi nasional.
«“Yang harus kita kejar sekarang adalah kualitas investasi. Investasi yang masuk harus menghasilkan kapasitas produksi baru, teknologi baru, rantai pasok baru, dan pekerjaan berkualitas,” kata Bamsoet.»
Ia mendorong agar keberhasilan investasi diukur secara lebih komprehensif. Tidak hanya berdasarkan nominal modal, tetapi juga berdasarkan kemampuan investasi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat industri dalam negeri, membuka ruang bagi UMKM serta menghasilkan transfer teknologi.
“Jangan sampai ukuran keberhasilan berhenti pada besarnya nilai investasi. Kita harus melihat berapa banyak tenaga kerja yang terserap, berapa besar nilai tambah yang tercipta di dalam negeri, berapa banyak UMKM yang masuk rantai pasok, dan seberapa besar kemampuan industri nasional meningkat,” ujarnya.
Danantara sebagai Jembatan Negara dan Dunia Usaha
Dalam kerangka tersebut, Bamsoet menempatkan Danantara sebagai salah satu instrumen strategis yang dapat memperluas ruang kolaborasi antara kekuatan ekonomi negara dan sektor swasta.
Menurutnya, Indonesia memiliki dua kekuatan besar yang apabila dipertemukan secara tepat dapat menghasilkan akselerasi ekonomi yang signifikan.
Negara memiliki aset, modal dan kemampuan menetapkan arah pembangunan. Sementara sektor swasta memiliki inovasi, teknologi, jaringan pasar dan fleksibilitas dalam mengambil keputusan bisnis.
«“Danantara harus menjadi salah satu pintu masuk untuk memperbesar kemitraan strategis dengan swasta. Ruang kerja samanya sangat luas, mulai dari industri manufaktur, hilirisasi, energi, infrastruktur, pangan, kesehatan, teknologi digital, sampai industri strategis,” jelasnya.»
Kolaborasi tersebut, lanjut Bamsoet, harus dibangun dengan prinsip profesionalisme, transparansi, tata kelola yang kuat dan orientasi terhadap penciptaan nilai jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, Danantara dapat menjadi katalisator yang mempertemukan kepentingan pembangunan nasional dengan kekuatan inovasi dan efisiensi sektor swasta.
Memperkuat Fondasi Nasional, Membuka Jalan ke Pasar Dunia
Bamsoet juga menyoroti strategi alokasi modal 80 persen untuk proyek nasional strategis dan 20 persen untuk ekspansi global.
Menurutnya, strategi tersebut memiliki makna penting bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Porsi domestik harus diarahkan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, industrialisasi, hilirisasi, infrastruktur, energi, pangan dan sektor-sektor strategis lainnya.
Sementara ekspansi global harus menjadi instrumen untuk membawa perusahaan Indonesia naik kelas dan memiliki daya saing internasional.
«“Porsi 80 persen untuk proyek nasional strategis harus benar-benar menghasilkan peningkatan kapasitas ekonomi nasional, sementara 20 persen untuk ekspansi global harus membuat perusahaan Indonesia mampu bermain di pasar internasional,” ungkapnya.»
Ia menilai Indonesia perlu mengubah paradigma dari sekadar menjadi tujuan investasi menjadi negara yang juga mampu mengekspor modal, teknologi, produk dan perusahaan ke berbagai belahan dunia.
“Kita perlu berpikir dua arah, memperkuat fondasi di dalam negeri sekaligus membawa modal, teknologi, produk, dan perusahaan Indonesia semakin jauh ke pasar global,” tutur Bamsoet.
Pertumbuhan 8 Persen dan Disiplin Stabilitas Makroekonomi
Ambisi mengejar pertumbuhan 8 persen, menurut Bamsoet, harus berjalan beriringan dengan disiplin menjaga stabilitas ekonomi.
Dalam pembahasan APBN 2027, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS dan defisit anggaran 2,4 persen terhadap PDB. Belanja negara ditetapkan sekitar Rp4.106,3 triliun.
Angka tersebut menunjukkan adanya ruang fiskal untuk menopang aktivitas ekonomi. Namun, menurut Bamsoet, fiskal pemerintah saja tidak akan cukup untuk membawa ekonomi menuju pertumbuhan 8 persen.
Dibutuhkan mobilisasi investasi swasta dalam skala yang jauh lebih besar.
«“Pertumbuhan 8 persen tidak boleh dikejar dengan mengorbankan stabilitas. Kita harus menjaga kredibilitas fiskal, inflasi, nilai tukar, dan kepercayaan investor,” ujarnya.»
Karena itu, kepastian hukum, kepastian regulasi dan iklim investasi yang kompetitif menjadi prasyarat penting.
Pemerintah perlu memberikan ruang bagi dunia usaha untuk bergerak cepat, sementara BUMN dan Danantara harus mampu mengambil posisi sebagai pengungkit investasi strategis.
“Kalau pemerintah mampu menciptakan kepastian, Danantara membuka ruang kemitraan, swasta agresif berinvestasi, dan seluruh ekosistem ekonomi bergerak produktif, maka target pertumbuhan tinggi dapat dikejar dengan fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” kata Bamsoet.
Menjadikan Pertumbuhan sebagai Instrumen Kesejahteraan
Bagi Bamsoet, pada akhirnya keberhasilan strategi ekonomi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa tinggi angka pertumbuhan yang berhasil dicapai.
Ukuran yang lebih fundamental adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu mengubah struktur ekonomi Indonesia menjadi lebih produktif, menciptakan pekerjaan berkualitas, memperkuat industri nasional, meningkatkan daya saing dan memperluas kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, kolaborasi pemerintah, BUMN, Danantara dan sektor swasta harus ditempatkan bukan sekadar sebagai kerja sama investasi, melainkan sebagai orkestrasi kekuatan nasional.
“Pertumbuhan ekonomi harus menjadi jalan untuk memperbesar kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia,” pungkasnya.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam Investor Daily Summit 2026, antara lain Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Ketua Wantimpres Hatta Rajasa, Anggota Wantimpres Umar Usman, Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita, mantan Menteri Perindustrian MS Hidayat, mantan Menteri Tenaga Kerja Theo L. Sambuaga, mantan Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudo Husodo, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, serta mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.
Investor Daily Summit 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum ekonomi. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, modal dan keberanian mengambil keputusan—dengan satu agenda besar: mendorong Indonesia tidak hanya tumbuh lebih tinggi, tetapi juga tumbuh lebih berkualitas, lebih produktif dan semakin berdaulat dalam percaturan ekonomi global.




Komentar