Advertorial Pendidikan Technology
Beranda / Technology / Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

JAKARTA, SWARAJABAR.ID – 21 Oktober 2026 – Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., menilai transisi otomotif Indonesia tidak bisa bertumpu pada satu teknologi. Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni memadukan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, dan opsi lain sesuai kebutuhan tiap sektor.

“Meskipun kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama dengan dukungan sumber daya mineral seperti nikel, Indonesia perlu memastikan agar pengembangan tersebut tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Nilai tambah dari pengolahan dan pengembangan teknologinya juga perlu dibangun di dalam negeri. Karena itu, pengembangan teknologi otomotif nasional perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, dengan membuka berbagai pilihan teknologi dan sumber energi yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing sektor,” ungkap Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina (15/10/2026).

Prof. Iman mencontohkan, kendaraan penumpang dan sepeda motor di perkotaan lebih sesuai menggunakan tenaga listrik karena jarak tempuhnya relatif pendek dan infrastruktur pengisian daya lebih mudah dijangkau. Sementara itu, truk, bus, dan alat berat bermesin diesel yang beroperasi jarak jauh atau di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas dapat memanfaatkan biodiesel karena didukung oleh mesin dan jaringan distribusi bahan bakar yang sudah tersedia.

“Untuk memenuhi kebutuhan energi yang beragam, Indonesia juga perlu mengembangkan bahan bakar nabati selain sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya. Karena itu, diperlukan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaannya,” jelas Prof. Iman.

Arah itu sejalan dengan perubahan di pasar. Penjualan kendaraan listrik (EV) naik dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025 (Goodstat, 2026). Namun, EV bukan satu-satunya jalur, sebab Indonesia juga mengembangkan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan 50 persen solar. Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki bahan baku potensial untuk jalur ini, tetapi penerapannya tetap perlu didukung kesiapan teknologi kendaraan.

Kodam XXII/TB Gerak Cepat Padamkan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting

“Penggunaan B50 membutuhkan pengujian dan penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat bekerja dengan baik. Begitu pula dengan bahan bakarnya, yang harus memenuhi standar dan kebutuhan mesin. Karena itu, penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” jelas Prof. Iman.

Selain sawit, Indonesia juga memiliki potensi bahan bakar nabati dari tanaman lain, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, Prof. Iman menekankan bahwa setiap pilihan energi, termasuk kendaraan listrik dan biodiesel, perlu mempertimbangkan dampak lingkungan melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Penilaian ini mencakup seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, hingga penggunaan energi, untuk memastikan transisi otomotif benar-benar lebih ramah lingkungan.

Menanggapi hal ini, Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyebut tantangan Indonesia bukan sekadar mengelola sumber daya energinya, tetapi juga kapabilitas talenta untuk mengembangkannya.

“Memastikan generasi yang akan datang memiliki kompetensi dalam mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membangun industri energi yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial. Melalui penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER, diharapkan dapat semakin memperkuat kapasitas talenta dalam memahami, mengembangkan, dan mengimplementasikan teknologi energi terbarukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ungkap Prof. Ichsan.

Jelang Porprov XV Jabar, Cabor Pencak Silat Gelar Manager Meeting di DPRD Kota Bogor
Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

01

H. RIDHO CHOIRUL UMAM: KENAIKAN PANGKAT IRJEN POL DEKANANTO EKO PURNOMO MENJADI TELADAN PENGABDIAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI GENERASI MUDA

02

Yusuf Ace Menang 71 Suara, Tegaskan Mandat Besar untuk Membangun Sukaresmi

03

Muhammad Rosi Aquilani, Talenta Muda Bekasi yang Menembus EPA U-16 Garudayaksa, Ukir Deretan Prestasi Sejak Usia Dini

04

Sahertian Lyonardo: Abdul Gofur Sosok Jujur, Amanah dan Berintegritas untuk Wadas Satu

05

Pemasangan PJU di RW 10 Dunguscariang Disorot, RAB Dipertanyakan, Lokasi dan Koordinasi Dinilai Janggal

https://www.tiktok.com/@swara_jabar?_r=1&_t=ZS-99lrpYWVd5x
× Advertisement
× Advertisement