Umum
Beranda / Umum / Terima Ketum PERIKLINDO Jenderal Moeldoko, Bamsoet Tegaskan Hilirisasi Kendaraan Listrik Harus Bermuara pada Industrialisasi Nasional

Terima Ketum PERIKLINDO Jenderal Moeldoko, Bamsoet Tegaskan Hilirisasi Kendaraan Listrik Harus Bermuara pada Industrialisasi Nasional

JAKARTA — Indonesia memiliki peluang strategis untuk tidak sekadar menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi berkembang menjadi salah satu basis industri kendaraan listrik dunia. Untuk mewujudkan visi tersebut, kebijakan hilirisasi dinilai perlu diarahkan lebih jauh hingga membentuk ekosistem industri yang utuh, berbasis teknologi, memiliki nilai tambah tinggi, serta mampu berkompetisi di pasar global.

Gagasan tersebut disampaikan Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo (Bamsoet), saat menerima Ketua Umum PERIKLINDO Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko beserta jajaran pengurus di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Bamsoet menekankan bahwa hilirisasi tidak semestinya berhenti pada pengolahan nikel menjadi bahan antara, pembangunan smelter, maupun produksi komponen baterai. Menurutnya, proses tersebut harus terus bergerak menuju penguasaan rantai industri yang lebih lengkap, mulai dari bahan baku, material baterai, sel baterai, battery pack, komponen kendaraan, kendaraan listrik, perangkat lunak, hingga kemampuan industri nasional menembus pasar ekspor.

“Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia. Kita punya sumber daya nikel, pasar domestik yang besar, tenaga kerja, basis industri otomotif, serta investasi baru yang terus masuk,” ujar Bamsoet.

“Karena itu, ukuran keberhasilan kita jangan berhenti pada berapa banyak nikel yang berhasil diolah atau berapa banyak pabrik yang dibangun. Ukurannya harus sampai pada seberapa besar nilai tambah, teknologi, komponen, kendaraan, dan lapangan kerja berkualitas yang berhasil kita ciptakan di Indonesia,” lanjutnya.

Genap 50 Tahun, Idhay Sumirat Doakan Plt. Bupati Bekasi Terus Mengabdi untuk Semua

Menurut Bamsoet, perkembangan pasar kendaraan listrik domestik memberikan fondasi penting bagi pembentukan ekosistem industri nasional. Sepanjang 2025, penjualan kendaraan elektrifikasi disebut mencapai 175.144 unit, yang terdiri atas HEV, PHEV, dan BEV. Sementara penjualan BEV mencapai 103.931 unit, meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 43.188 unit.

Pertumbuhan tersebut, kata Bamsoet, menunjukkan bahwa pasar domestik dapat menjadi salah satu kekuatan utama dalam membangun industri kendaraan listrik nasional. Namun, besarnya pasar perlu diiringi dengan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri agar pertumbuhan permintaan juga menghasilkan nilai ekonomi yang semakin besar bagi Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, jajaran PERIKLINDO yang hadir antara lain Ketua Umum Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, Sekretaris Jenderal Tenggono Chuandra Phoa, serta Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Bhudjonggo Prabowo Kartoleksono.

Dari Hilirisasi Menuju Industrialisasi

Bamsoet menilai, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan investasi kendaraan listrik memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri nasional.

Momentum Pertambahan Usia, Memperkuat Semangat Pengabdian dan Kolaborasi untuk Kabupaten Bekasi

Berdasarkan roadmap pemerintah yang disampaikan Bamsoet, batas minimal TKDN kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) ditetapkan sebesar 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan mencapai 80 persen mulai 2030.

Namun, Bamsoet menegaskan bahwa ukuran keberhasilan industrialisasi tidak cukup hanya dilihat dari persentase TKDN.

“TKDN bukan hanya satu-satunya instrumen. Kita juga harus melihat siapa yang memasok komponen, di mana teknologi dikembangkan, berapa banyak perusahaan nasional yang masuk dalam rantai pasok, berapa tenaga kerja Indonesia yang terserap, dan seberapa besar riset serta rekayasa dilakukan di dalam negeri,” jelasnya.

“Kalau indikator-indikator itu tumbuh, barulah kita bisa mengatakan hilirisasi mulai berubah menjadi industrialisasi,” tambah Bamsoet.

Pandangan tersebut menempatkan pengembangan kendaraan listrik bukan semata sebagai agenda transformasi energi dan transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi memperkuat struktur industri nasional.

Ketua FWJI Indramayu Mutadi Laporkan Dugaan Intimidasi Wartawan ke Polres Indramayu

Indonesia, menurut Bamsoet, memiliki kesempatan untuk membangun rantai nilai kendaraan listrik yang semakin panjang di dalam negeri. Dengan demikian, sumber daya alam tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi dapat berkembang menjadi produk industri dengan kandungan teknologi dan nilai tambah yang lebih tinggi.

Membangun Ekosistem Baterai dari Hulu hingga Hilir

Bamsoet juga menyoroti pentingnya memperkuat rantai pasok baterai sebagai salah satu fondasi utama industri kendaraan listrik.

Ia menyebut ekosistem baterai nasional mulai berkembang, termasuk keberadaan PT HLI Green Power di Karawang, perusahaan patungan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution yang disebut memiliki investasi sekitar US$1,2 miliar dan kapasitas produksi sel baterai sebesar 10 GWh per tahun, setara dengan kebutuhan sekitar 150.000 kendaraan listrik.

Menurutnya, keberadaan industri tersebut perlu diikuti dengan pengembangan mata rantai industri lainnya sehingga Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi pada satu tahapan tertentu.

Bamsoet juga memaparkan rencana investasi sekitar US$350 juta dari Pure Battery Technologies untuk membangun fasilitas precursor bahan katoda atau pCAM di Indonesia. Fasilitas tersebut dirancang menggunakan MHP yang dipasok dari fasilitas HPAL domestik.

Jika rantai tersebut terus diperkuat, maka proses penciptaan nilai dapat bergerak secara berkesinambungan, mulai dari nikel, MHP, precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan listrik hingga proses daur ulang.

“Inilah pekerjaan rumah kita. Jangan puas karena sudah memiliki nikel dan HPAL. Kita harus terus bergerak ke precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan, sampai recycling,” tegas Bamsoet.

Indonesia Jangan Hanya Menjadi Pasar

Bamsoet menegaskan, arah pengembangan industri kendaraan listrik harus memastikan Indonesia tidak berhenti sebagai pasar bagi produk-produk kendaraan listrik global.

Menurutnya, pasar domestik yang besar harus dimanfaatkan sebagai fondasi untuk membangun kapasitas manufaktur, memperkuat perusahaan nasional, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperluas kegiatan penelitian dan pengembangan, serta menciptakan jaringan pemasok domestik yang semakin kompetitif.

“Semakin panjang rantai produksi yang berada di Indonesia, semakin besar pula nilai tambah dan kesempatan kerja yang ada di dalam negeri,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut pada akhirnya tidak hanya tercermin dari jumlah kendaraan listrik yang diproduksi atau terjual, tetapi juga dari kemampuan Indonesia menguasai teknologi, menciptakan komponen bernilai tinggi, memperkuat industri nasional, serta membawa produk buatan dalam negeri ke pasar internasional.

“Pada titik itulah hilirisasi memiliki makna strategis bagi industrialisasi nasional,” pungkas Bamsoet.

Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

01

H. RIDHO CHOIRUL UMAM: KENAIKAN PANGKAT IRJEN POL DEKANANTO EKO PURNOMO MENJADI TELADAN PENGABDIAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI GENERASI MUDA

02

Yusuf Ace Menang 71 Suara, Tegaskan Mandat Besar untuk Membangun Sukaresmi

03

Sahertian Lyonardo: Abdul Gofur Sosok Jujur, Amanah dan Berintegritas untuk Wadas Satu

04

XTC Purwakarta Tantang Kejari Usut Tuntas Dugaan PLTS Rp18 Miliar dan Tunjangan DPRD Rp72 Juta

05

KPIC Kembali Mengukir Prestasi, Juara Umum II Kejurnas GWIS Open 2026 Jadi Bukti Ketangguhan Pembinaan Atlet Karawang

× Advertisement
× Advertisement