BEKASI — Di tengah dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks, keberadaan organisasi kemasyarakatan dituntut tidak berhenti pada fungsi kontrol, kritik, maupun advokasi. Ormas juga diharapkan mampu hadir sebagai kekuatan sosial yang memberikan solusi dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat itulah yang terus dibangun Aliansi Ormas Bekasi (AOB) melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Salah satunya diwujudkan melalui pengajian rutin malam Jumat yang digelar keluarga besar AOB di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Zaenal Abidin, S.E. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban, mempertemukan unsur keluarga besar organisasi dalam satu ruang silaturahmi, pembinaan spiritual, sekaligus kepedulian sosial.
Pengajian diisi tausiyah oleh Ustadz Abdul Azis, yang mengajak seluruh peserta memperkuat keimanan, menjaga persaudaraan, serta menjadikan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, kegiatan malam Jumat tersebut tidak berhenti pada dimensi spiritual.
AOB juga membagikan paket sembako kepada para peserta pengajian sebagai bentuk kepedulian dan upaya menghadirkan manfaat secara langsung.
Bagi AOB, berbagi bukan sekadar persoalan memberikan bantuan. Lebih dari itu, kegiatan sosial dipandang sebagai cara membangun solidaritas dan memastikan keberadaan organisasi benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
20 Persen Kontrol, 80 Persen Pengabdian
Dalam kesempatan tersebut, H. Zaenal Abidin menegaskan arah perjuangan AOB sebagai organisasi kemasyarakatan.
Menurut dia, fungsi kontrol sosial tetap menjadi bagian penting dari keberadaan AOB. Organisasi masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawasi dinamika sosial, menyampaikan aspirasi masyarakat, serta memberikan kritik konstruktif ketika menemukan persoalan yang membutuhkan perhatian.
Namun, fungsi tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya wajah organisasi.
«“AOB ini memang memiliki salah satu tugas sebagai kontrol sosial. Tetapi kami ingin AOB lebih banyak memberikan manfaat. Filosofi kami, 20 persen kontrol sosial dan 80 persen kegiatan sosial,” ujar H. Zaenal Abidin.»
Pernyataan tersebut bukan sekadar slogan organisasi. Bagi AOB, filosofi itu hendak diterjemahkan melalui berbagai aktivitas nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Dari pengajian, pembagian sembako, bantuan sosial, hingga kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, AOB berupaya membangun model gerakan sosial yang tidak hanya kritis, tetapi juga produktif dan solutif.
Kontrol sosial tetap penting. Namun, kerja sosial adalah wajah pengabdian.
Bangun Solidaritas Antar-Ormas
Semangat kolaborasi juga terlihat dalam agenda tersebut ketika Ketua Umum AOB H. Zaenal Abidin menyerahkan bantuan kepada Ormas GEMPA.
Bantuan tersebut diterima langsung oleh Ketua GEMPA Kabupaten Bekasi.
Penyerahan bantuan menjadi simbol penting tentang bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat membangun solidaritas tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Di tengah berbagai persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, sinergi antarormas dinilai menjadi salah satu kekuatan yang dapat memperluas jangkauan pengabdian kepada masyarakat.
AOB memandang bahwa organisasi masyarakat tidak semestinya hanya hadir untuk memperjuangkan kepentingan internal organisasi. Lebih jauh, kekuatan yang dimiliki harus dikonversikan menjadi energi positif bagi lingkungan sosial.
Dengan demikian, keberadaan ormas dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Dari Mimbar Pengajian ke Aksi Nyata
Pengajian malam Jumat AOB pada akhirnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan rutin keagamaan.
Ia menjadi titik temu antara spiritualitas dan solidaritas, antara pesan moral dan tindakan nyata.
Pesan keagamaan yang disampaikan Ustadz Abdul Azis menemukan relevansinya ketika keluarga besar AOB menerjemahkannya melalui kepedulian sosial. Sementara pembagian sembako dan bantuan kepada GEMPA menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan tidak berhenti di ruang pengajian.
Semangat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas organisasi kemasyarakatan dapat dibangun dengan pendekatan yang lebih humanis: mengkritik ketika diperlukan, membantu ketika dibutuhkan, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan kepedulian.
Bagi H. Zaenal Abidin, ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukan hanya seberapa kuat suaranya terdengar, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari keberadaannya.
Karena itu, AOB ingin menempatkan kegiatan sosial bukan sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai bagian penting dari karakter organisasi.
Meneguhkan Ormas sebagai Kekuatan Masyarakat
Konsistensi AOB menggelar kegiatan keagamaan dan sosial menjadi bagian dari upaya membangun wajah organisasi kemasyarakatan yang lebih konstruktif.
Di tengah tuntutan masyarakat terhadap keberadaan organisasi yang mampu menjadi jembatan antara aspirasi publik dan berbagai pemangku kepentingan, AOB memilih memperkuat fondasi pengabdian dari bawah.
Pengajian menjadi ruang pembinaan.
Silaturahmi menjadi kekuatan.
Kontrol sosial menjadi tanggung jawab.
Dan kegiatan sosial menjadi wujud pengabdian.
Dari Bekasi, AOB ingin menegaskan satu pesan sederhana namun fundamental: organisasi kemasyarakatan akan semakin bermakna ketika keberadaannya tidak hanya terdengar oleh masyarakat, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dengan prinsip 20 persen kontrol sosial dan 80 persen kegiatan sosial, AOB berupaya menempatkan kekuatan organisasi bukan sekadar sebagai instrumen kritik, melainkan sebagai energi kolektif untuk membangun kepedulian, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.




Komentar