Umum
Beranda / Umum / Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Putih Sari Ajak Warga Sumber Jaya Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Era Digital

Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Putih Sari Ajak Warga Sumber Jaya Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Era Digital

BEKASI — Anggota MPR RI sekaligus Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Putih Sari, mengajak masyarakat Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, untuk terus memperkuat persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan melalui pengamalan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.

Pesan tersebut disampaikan Putih Sari dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang berlangsung di lingkungan RW 18, Desa Sumber Jaya, Kabupaten Bekasi, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana untuk kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjadikan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam kesempatan itu, Putih Sari menyampaikan bahwa sosialisasi Empat Pilar bukan sekadar kegiatan untuk menghafalkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang sudah dikenal sejak bangku sekolah. Lebih dari itu, menurutnya, Empat Pilar harus diwujudkan dalam perilaku dan keputusan sehari-hari.

13 Tokoh Inti Kabupaten Bekasi Terima Jaket PSI Langsung dari Kaesang di Rakorda DPD PSI

“Kalau sekadar hafal, anak SD juga sudah tahu. Yang penting adalah bagaimana kita mengimplementasikannya dalam setiap kegiatan sehari-hari, apa pun peran kita di masyarakat, di lingkungan kerja maupun di mana pun kita berada,” ujar Putih Sari.

Ia menjelaskan, Indonesia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang dengan berbagai dinamika, perbedaan, dan tantangan. Karena itu, keberadaan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kehidupan bangsa yang majemuk.

Menurut Putih Sari, tantangan Indonesia saat ini juga mengalami perubahan. Jika generasi terdahulu menghadapi tantangan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa, generasi sekarang menghadapi tantangan keberlanjutan bangsa di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang sangat cepat.

Bijak Menyaring Informasi di Era Digital

Salah satu perhatian Putih Sari adalah semakin derasnya arus informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital.

H Zaenal Abidin,.S.E,. Tegaskan Marwah AOB: Nama Besar Organisasi Adalah Amanah yang Wajib Dijaga

Kemajuan teknologi, kata dia, pada dasarnya memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru ketika informasi yang beredar tidak disaring dan diverifikasi dengan baik.

“Perkembangan teknologi memang memberikan kemudahan kepada kita. Tetapi kalau kita tidak pintar-pintar menyaring, perkembangan teknologi juga bisa menjadi bumerang,” katanya.

Putih Sari mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai setiap informasi, foto, maupun video yang beredar di media sosial.

Menurutnya, teknologi saat ini memungkinkan sebuah gambar maupun video dimanipulasi sehingga terlihat seolah-olah merupakan peristiwa nyata. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital dan membiasakan diri melakukan pemeriksaan terhadap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

“Jangan sampai informasi yang sebenarnya belum tentu benar kemudian dipercaya begitu saja dan akhirnya menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat,” ujarnya.

Bamsoet Kukuhkan Lima Komunitas Baru PERIKHSA, Teguhkan Budaya Profesional, Disiplin dan Taat Hukum

Ia menilai, nilai-nilai Pancasila juga memiliki relevansi dalam menghadapi persoalan tersebut. Semangat kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta sikap saling menghormati dapat menjadi pedoman masyarakat dalam menghadapi perbedaan informasi maupun pandangan.

Keberagaman Adalah Kekuatan

Putih Sari juga mengajak masyarakat Kabupaten Bekasi untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan.

Menurutnya, Kabupaten Bekasi merupakan daerah dengan masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang daerah, suku, budaya, dan karakter sosial. Kondisi tersebut menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai salah satu gambaran kecil keberagaman Indonesia.

“Ini menjadi keberagaman yang harus sama-sama kita sadari dan kita jaga. Jangan justru perbedaan semakin dipertebal, tetapi jadikan perbedaan sebagai satu kekayaan yang kita miliki,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi memecah persatuan.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika, lanjutnya, mengajarkan bahwa keberagaman dapat berjalan bersama dalam satu kehidupan kebangsaan.

Putih Sari juga menyinggung perbedaan pilihan dalam momentum politik sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Setelah proses pemilihan selesai, masyarakat diharapkan dapat kembali membangun kebersamaan.

“Perbedaan pilihan adalah hal yang biasa. Setelah momentum pemilihan selesai, kita harus sama-sama menerima apa pun hasilnya,” katanya.

Musyawarah Menjadi Jalan Tengah

Lebih jauh, Putih Sari mengaitkan pentingnya musyawarah dengan sila keempat Pancasila.

Menurutnya, dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam penyelenggaraan negara, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola melalui dialog dan musyawarah sehingga menghasilkan keputusan yang dapat diterima bersama.

Ia memberikan gambaran mengenai dinamika pembahasan kebijakan di DPR RI. Sebagai lembaga yang terdiri dari berbagai fraksi dengan latar belakang politik yang berbeda, proses pengambilan keputusan membutuhkan pembahasan, pertukaran pandangan, dan pencarian titik temu.

Putih Sari mencontohkan keterlibatannya dalam bidang ketenagakerjaan. Menurutnya, dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan, terdapat kepentingan yang harus diperhatikan secara bersamaan, antara lain perlindungan hak pekerja, keberlangsungan dunia usaha, pembangunan industri, serta kebutuhan penciptaan lapangan kerja.

“Lapangan kerja dan pembangunan industri masih sangat kita butuhkan. Karena itu, masing-masing pihak harus bisa saling memahami dan tidak saling memaksakan kepentingan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa proses tersebut membutuhkan keseimbangan agar kebijakan yang dihasilkan dapat menjadi jalan tengah bagi berbagai kepentingan.

“Bagaimana menjadi titik ekuilibrium, bagaimana bisa seimbang. Kalau belum bisa seimbang, paling tidak jangan sampai kepentingannya terlalu jauh,” ujarnya.

Dari Lingkungan Warga untuk Indonesia

Putih Sari menilai prinsip yang sama juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat di tingkat desa, RW, maupun lingkungan keluarga.

Perbedaan pendapat mengenai pembangunan lingkungan, pelayanan masyarakat, kegiatan sosial, maupun berbagai kebutuhan warga merupakan sesuatu yang wajar. Namun, setiap persoalan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah.

Menurutnya, keputusan yang lahir dari proses dialog akan lebih mudah diterima apabila masyarakat merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan.

“Paling tidak harus ada solusi. Dan solusi itu menjadi pertimbangan untuk diambil sebagai satu kepentingan bersama,” katanya.

Putih Sari berharap kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi pengingat bersama bagi masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan nyata.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sumber Jaya untuk menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, menghormati perbedaan, serta bijak menggunakan teknologi dan media sosial.

“Yang paling penting bukan hanya kita tahu dan hafal Pancasila, tetapi bagaimana nilai-nilainya benar-benar kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Bagi Putih Sari, menjaga Indonesia di tengah perubahan zaman bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun lembaga negara. Tanggung jawab tersebut juga berada di tangan masyarakat melalui tindakan sederhana: menghormati sesama, menjaga persatuan, menyaring informasi, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Dari lingkungan masyarakat seperti Sumber Jaya, nilai-nilai tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebab, keberlanjutan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar di tingkat nasional, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat menjaga persatuan dan kebersamaan dari lingkungan terkecil.

Bagikan berita/artikel ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

01

H. RIDHO CHOIRUL UMAM: KENAIKAN PANGKAT IRJEN POL DEKANANTO EKO PURNOMO MENJADI TELADAN PENGABDIAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI GENERASI MUDA

02

Yusuf Ace Menang 71 Suara, Tegaskan Mandat Besar untuk Membangun Sukaresmi

03

Sahertian Lyonardo: Abdul Gofur Sosok Jujur, Amanah dan Berintegritas untuk Wadas Satu

04

XTC Purwakarta Tantang Kejari Usut Tuntas Dugaan PLTS Rp18 Miliar dan Tunjangan DPRD Rp72 Juta

05

KPIC Kembali Mengukir Prestasi, Juara Umum II Kejurnas GWIS Open 2026 Jadi Bukti Ketangguhan Pembinaan Atlet Karawang

https://www.tiktok.com/@swara_jabar?_r=1&_t=ZS-99lrpYWVd5x
× Advertisement
× Advertisement