**KARAWANG** — Tekanan dan dinamika politik tidak selalu menjadi alasan untuk melemah. Bagi sebagian orang, justru di tengah guncanganlah konsistensi, keteguhan prinsip, dan karakter kepemimpinan diuji. Semangat inilah yang ditegaskan Setiawan Adriel, Ketua Tanggap Bencana DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Karawang, dalam menyikapi berbagai isu yang belakangan menjadi sorotan publik terkait Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Setiawan Adriel menegaskan bahwa dirinya bersama jajaran tetap berdiri teguh, konsisten, dan tidak kehilangan arah dalam memberikan dukungan kepada Gibran. Bahkan, menurutnya, munculnya berbagai isu yang mengguncang ruang publik justru menjadi momentum untuk memperkuat militansi, menjaga soliditas, serta meneguhkan komitmen dalam mengawal semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.

Baginya, dukungan politik bukan sekadar persoalan mengikuti arus popularitas atau bertahan ketika situasi sedang menguntungkan. Lebih dari itu, dukungan merupakan sikap yang harus dilandasi keyakinan, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta penghormatan terhadap proses hukum dan prinsip keadilan.
“Semakin diguncang, seharusnya semakin kuat untuk melangkah. Kami tidak ingin menjadikan berbagai isu yang berkembang sebagai alasan untuk mundur atau kehilangan semangat. Justru ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa konsistensi, loyalitas, dan pengabdian harus tetap terjaga,” demikian sikap yang ditegaskan Setiawan Adriel.
## Gibran Dinilai sebagai Figur Tangguh di Tengah Dinamika Politik
Setiawan memandang Gibran Rakabuming Raka sebagai sosok pemimpin muda yang memiliki ketangguhan dalam menghadapi dinamika politik. Menurutnya, kemampuan seorang pemimpin menghadapi tekanan tidak hanya dilihat dari seberapa besar tantangan yang datang, tetapi juga dari bagaimana ia menyikapinya dengan tenang, bijaksana, dan tetap berpegang pada mekanisme yang berlaku.
Ia menilai bahwa berbagai isu yang berkembang tidak sepatutnya langsung dijadikan dasar untuk membangun kesimpulan sepihak. Dalam negara hukum, setiap persoalan harus ditempatkan secara proporsional, dengan mengedepankan fakta, bukti yang dapat diverifikasi, serta proses hukum apabila memang terdapat persoalan yang memerlukan penanganan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Menurut Setiawan, masyarakat memiliki ruang untuk menilai, mengkritik, dan menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut juga perlu diiringi tanggung jawab agar ruang publik tidak dipenuhi prasangka yang mendahului pembuktian.
“Bagi kami, Mas Gibran merupakan figur yang tangguh dalam menghadapi berbagai dinamika. Kami percaya bahwa setiap persoalan harus diuji berdasarkan fakta dan mekanisme hukum yang berlaku. Biarlah proses berjalan secara objektif, bukti berbicara, dan waktu memberikan ruang bagi masyarakat untuk menilai secara lebih jernih,” menjadi prinsip yang ditekankannya.
Ia juga menegaskan bahwa keyakinan dan dukungan politik tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap prinsip praduga tak bersalah, transparansi, maupun hak publik untuk memperoleh informasi yang benar.
## Militansi Bukan Sekadar Loyalitas, Melainkan Konsistensi Pengabdian
Bagi Setiawan Adriel, militansi yang sesungguhnya tidak cukup ditunjukkan melalui pernyataan keras atau pembelaan di tengah polemik. Militansi harus tercermin dalam tindakan nyata, kedisiplinan organisasi, kemampuan menjaga persatuan, serta kesediaan untuk terus bekerja bagi kepentingan masyarakat.
Sebagai Ketua Tanggap Bencana DPD PSI Kabupaten Karawang, ia menempatkan pengabdian sosial sebagai salah satu wujud penting dari tanggung jawab organisasi. Menurutnya, energi politik seharusnya tidak habis hanya untuk merespons perdebatan, melainkan juga diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Mulai dari kepedulian terhadap warga terdampak bencana, penguatan solidaritas sosial, hingga mendorong keterlibatan kader dalam kegiatan kemanusiaan, seluruhnya merupakan bentuk kontribusi yang perlu terus diperkuat.
Ia ingin memastikan bahwa semangat mendukung kepemimpinan nasional berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial di tingkat daerah. Sebab, ukuran keberhasilan perjuangan politik pada akhirnya tidak hanya terletak pada kuatnya dukungan, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan riuhnya isu hingga melupakan tugas utama untuk mengabdi. Bagi kami, menjaga soliditas organisasi harus berjalan beriringan dengan kerja nyata. Masyarakat membutuhkan kepedulian, solusi, dan kehadiran yang bisa dirasakan secara langsung,” tegasnya.
## Semakin Diuji, Semakin Teguh Menatap Masa Depan
Setiawan juga mengajak seluruh jajaran dan pihak-pihak yang memiliki pandangan serupa agar tetap tenang, dewasa, serta tidak mudah terpancing oleh provokasi maupun informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, kekuatan sebuah organisasi tidak diukur dari kemampuannya membalas setiap kritik, tetapi dari kemampuannya menjaga arah perjuangan, merawat persatuan, dan membuktikan komitmen melalui kerja yang konsisten.
Ia menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Karena itu, setiap respons terhadap dinamika politik perlu disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, dan tidak menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat.
Dalam pandangannya, perjalanan menuju kegemilangan pengabdian bagi Indonesia membutuhkan kesabaran, keteguhan, serta kesediaan untuk menghadapi berbagai ujian. Dukungan yang kuat, menurutnya, harus tetap disertai sikap kritis, penghormatan terhadap hukum, dan komitmen untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Setiawan berharap berbagai dinamika yang terjadi dapat menjadi pelajaran bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih cermat dalam menerima informasi, tidak terburu-buru menghakimi, serta memberikan kesempatan kepada setiap persoalan untuk diselesaikan melalui mekanisme yang semestinya.
## Menjaga Loyalitas, Menguatkan Pengabdian untuk Indonesia
Menutup pernyataannya, Setiawan Adriel menegaskan bahwa dirinya bersama jajaran tetap berkomitmen menjaga konsistensi dukungan kepada Gibran Rakabuming Raka, sembari terus menjalankan tanggung jawab organisasi dan pengabdian sosial di Kabupaten Karawang.
Baginya, perjalanan politik tidak selalu berjalan mulus. Akan selalu ada kritik, perbedaan pandangan, dan tantangan yang menguji keteguhan sikap. Namun, seluruh dinamika tersebut harus dihadapi dengan kedewasaan, bukan dengan kebencian; dengan fakta, bukan prasangka; serta dengan kerja nyata, bukan sekadar retorika.
“Prinsip kami jelas: tetap konsisten, tetap solid, dan tetap mengutamakan pengabdian. Kami meyakini bahwa setiap persoalan harus mendapatkan ruang pembuktian yang adil. Biarlah hukum bekerja sebagaimana mestinya dan waktu menjadi bagian dari proses penilaian publik. Sementara itu, tugas kami adalah terus bekerja, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat serta Indonesia,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan satu pesan utama:
“Guncangan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Keteguhan yang disertai akal sehat, loyalitas yang tetap menghormati hukum, serta militansi yang diwujudkan melalui pengabdian nyata merupakan fondasi penting bagi perjuangan politik yang dewasa dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kegemilangan bukan semata-mata tentang siapa yang paling lantang menyuarakan dukungan, melainkan siapa yang mampu menjaga komitmen, membuktikan integritas melalui tindakan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat serta masa depan Indonesia.




Komentar