JAKARTA — Peringatan HUT ke-9 Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD) menjadi momentum untuk memperluas perspektif mengenai bela negara di tengah transformasi teknologi yang berlangsung begitu cepat.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua Dewan Penasehat HIPAKAD, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai semangat bela negara pada era modern tidak lagi semata-mata berbicara mengenai kesiapan menghadapi ancaman fisik. Bela negara juga harus diwujudkan melalui kemampuan menguasai teknologi, menjaga ruang digital, meningkatkan keterampilan serta membangun karakter kebangsaan.
Pesan tersebut disampaikan Bamsoet saat menghadiri perayaan HUT ke-9 HIPAKAD di Jakarta, Senin (21/9/2026). Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan dua sisi yang harus dihadapi secara seimbang: peluang besar bagi kemajuan bangsa sekaligus tantangan baru yang membutuhkan kesiapan sumber daya manusia.
“Ancaman terhadap bangsa tidak hanya berupa serangan fisik, tetapi bisa masuk melalui telepon genggam dalam bentuk hoaks, penipuan, pencurian data, deepfake, atau manipulasi informasi. Karena itu, bela negara harus mengikuti perkembangan zaman,” ujar Bamsoet.
Ia menegaskan, menjaga ruang digital agar tetap aman, sehat dan tidak menjadi sarana penyebaran informasi menyesatkan maupun pemecah persatuan merupakan bagian dari bentuk tanggung jawab kebangsaan.
Teknologi Harus Menjadi Kekuatan Bangsa
Bamsoet juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin cepat. Menurutnya, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, membantu pekerjaan manusia dan menciptakan berbagai inovasi baru.
Namun, pada saat yang sama, teknologi tersebut juga membawa tantangan. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat deepfake, meniru suara, memanipulasi foto, membuat identitas palsu hingga menghasilkan konten yang tampak meyakinkan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.
Karena itu, Bamsoet mengingatkan pentingnya membangun generasi muda yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai produk teknologi.
“Generasi muda harus menguasai teknologi sekaligus memahami risikonya. Jangan sampai kita mahir menggunakan AI tetapi mudah tertipu oleh hasil manipulasi AI,” katanya.
Menurut Bamsoet, kemampuan memeriksa sumber informasi, berpikir kritis, melindungi data pribadi serta tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya kini menjadi bagian penting dari keterampilan generasi muda.
Ia juga menyebut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dikutipnya, bahwa sepanjang 2025 terdapat sekitar 5,16 miliar anomali atau aktivitas trafik internet yang terindikasi berpotensi menjadi ancaman siber. Menurutnya, data tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi Indonesia dalam membangun ekosistem digital yang aman.
HIPAKAD Didorong Perkuat Keterampilan Generasi Muda
Sebagai organisasi yang memiliki keterkaitan dengan keluarga besar prajurit Angkatan Darat, Bamsoet mendorong HIPAKAD untuk terus memperkuat pendidikan karakter dan kapasitas generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurutnya, semangat kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan dan pengabdian yang diwariskan keluarga prajurit dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bidang kehidupan modern.
Bamsoet menyebut sejumlah bidang yang dapat menjadi ruang pengembangan HIPAKAD, antara lain literasi digital, pendidikan kebangsaan, pelatihan AI, keamanan siber, kewirausahaan, sertifikasi keterampilan, olahraga, pendidikan vokasi dan pengabdian masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, kata dia, bela negara dapat diwujudkan melalui karya dan kontribusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Anggota HIPAKAD harus didorong menjadi generasi yang berpendidikan, berkarakter, mandiri, produktif dan mampu berkompetisi secara global,” ujarnya.
Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045
Bamsoet menilai tantangan teknologi harus ditempatkan dalam konteks bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Besarnya jumlah penduduk usia produktif, menurutnya, membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter dan kemampuan beradaptasi.
“Nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan dan pengabdian yang diwariskan keluarga prajurit harus diwujudkan menjadi prestasi di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, olahraga, kewirausahaan serta bidang lainnya,” katanya.
Ia berharap momentum HUT ke-9 HIPAKAD dapat menjadi ruang refleksi sekaligus titik tolak untuk memperkuat kontribusi organisasi dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, semangat bela negara, menurut Bamsoet, tidak hanya diwujudkan melalui kemampuan menghadapi ancaman, tetapi juga melalui pendidikan, keterampilan, inovasi, produktivitas, kepedulian sosial dan kemampuan menjaga persatuan bangsa.
“Bela negara sepanjang masa, dalam segala bidang. Generasi muda harus menjadi kekuatan yang mampu mengubah perkembangan teknologi menjadi energi untuk kemajuan Indonesia,” pungkas Bamsoet.


Komentar